Jumat, 18 Desember 2009

Sekitar 38,15 Persen Laut Timor Tercemar Minyak

Kupang,(ANTARA News) - Hasil uji laboratorium afiliasi departemen kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 38,15 persen wilayah perairan Indonesia di Laut Timor tercemar minyak mentah.

"Sumber minyak mentah itu berasal dari sumur minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor yang meledak pada 20 Agustus 2009," kata pemerhati Laut Timor Ferdi Tanoni di Kupang, Kamis, setelah menerima hasil uji laboratorium afiliasi dari Drs Sunardi MSi, Direktur Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Indonesia.

Tanoni yang juga Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) ini mengatakan, hasil uji laboratorium tersebuti baru diketahui pada 2 Desember 2009 lalu setelah mengambil sejumlah sampel minyak mentah yang berasal dari sumur minyak Montara di wilayah perairan Laut Timor dari nelayan Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 6 Oktober 2009.

"Laboratorium tersebut menggunakan metode gravimetry, dan hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pencemaran minyak yang ditemukan di perairan Indonesia itu mencapai sekitar 38,15 persen," katanya.

Tanoni yang juga mantan agen imigrasi Kedutaan Besar Australia itu mengatakan, "Sekarang tak ada lagi yang harus ditutup-tutupi soal pencemaran minyak di Laut Timor yang bersumber dari ladang minyak Montara".

"Semuanya sudah jelas," kata Tanoni dan menegaskan, Direktur Jenderal Perhuhungan Laut Departemen Perhubungan selaku Ketua Pelaksana Tim Nasional Penanggulangan Pencemaran Laut Timor yang terbentuk tiga minggu lalu, maupun oleh Pemerintah Federal Australia, tak perlu lagi menyangkal soal pencemaran minyak di Laut Timor.

Ia menambahkan, tim nasional itu sampai sejauh ini belum melakukan aksi nyata berkaitan dengan bencana tumpahan minyak Montara di Laut Timor yang diperkirakan mencapai sekitar 40 juta liter lebih minyak mentah.

"Tim seharusnya sudah bekerja untuk mengidentifikasi berbagai dampak dan kerugian yang telah dirasakan oleh masyarakat di pesisir selatan Pulau Timor bagian barat NTT, Rote Ndao dan Sabu. Tapi nyatanya belum juga berbuat apa-apa," katanya.


Sumber: ANTARA News (Kamis, 10 Desember 2009 14:41 WIB)

Selengkapnya....

Koala dan Penguin Terancam Punah

(istimewa)

Jakarta (NTR News)- Perubahan iklim mengancam kelangsungan hidup puluhan spesies hewan mulai dari penguin emperor sampai kepada koala australia, demikian laporan yang disiarkan Senin, dalam pertemuan puncak PBB mengenai iklim.

Naiknya permukaan air laut, meningkatnya keasaman air samudra dan menyusutnya es kutub merenggut korban besar pada bermacam spesies yang sudah berjuang menanggulangi polusi dan penyusutan habitat, kata studi tersebut International Union for the Conservation of Nature (IUCN), satu kelompok antar-pemerintah.

"Manusia bukan satu-satu makhluknya yang nasibnya tergantung di sini di Kopenhagen, tapi sebagian spesies favorit kita juga menghadapi kemerosotan akibat buangan CO2 kita," kata Wendy Foden, peneliti IUCN dan penulis bersama studi itu, sebagaimana dilaporkan kantor berita Prancis, AFP.

Laporan tersebut merinci bagaimana perubahan iklim merusak kelangsungan hidup 10 spesies, termasuk penyu learhterback, ikan paus beluga, clownfish, penguin emperor, dan salmon.

Hewan mirip beruang yang menjadi ikon Austalia, koala, menghadapi kekurangan gizi dan kelaparan saat kualitas daun eucalyptus merosot saat tingkat CO2 bertambah, kata laporan tersebut.

Spesies kutub mengalami pukulan yang paling keras, katanya.Anjing laut dipaksa bergerak lebih jauh ke utara saat es laut tempat yang diandalkannya untuk membesarkan anak mereka yang rentan berkurang setiap dasawarsa.

Penguin emperor, yang sangat pandai menyesuaikan diri guna berjuang hidup dalam kondisi Kutub Selatan, yang sangat berat, menghadapi masalah serupa.

Berkurangnya lapisan es membuat keadaan jadi lebih berat untuk mereka kawin dan membesarkan anak, dan telah mengakibatkan kemerosotan tajam kelangsungan hidup "kril" --hewan laut bertulang punggung yang mirip udang-- sumber pangan utama penguin emperor.

Karena "tundra", yang dulu beku, membuka jalan bagi hutan, rubah berbulu merah yang biasa hidup di sana pindah ke arah utara --tempat hewan itu berburu dan bersaing dengan sepupunya yang lebih langka.

"Tundra" adalah Biome, daerah yang serupa tempat pohoh tumbuh, terhalang oleh temperatur rendah dan musim tumbuh yang singkat.

Ikan paus beluga menghadapi ancaman ganda akibat pemanasan global: hilangnya es laut membuatnya kesulitan menemukan mangsa, dan terbukanya jalur baru pelayaran tampaknya mengakibatkan terjangan mematikan oleh kapal, seperti yang terjadi di tempat lain.

"Bagi sangat banyak keragaman hayati, perubahan iklim adalah ancaman tambahan yang besar," kata Jean-Christophe Vie, Wakil Kepala Program Sains IUCN.

Di wilayah tropis, lebih dari 160 spesies terumbu karang --dan puluhan juta orang yang bergantung pada terumbu karang yang sehat bagi sumber nafkah mereka-- sekarat akibat meningkatnya keasaman samudra, akibat langsung dari menghangatnya air laut.

Buat ikan badut (clownfish), yang diangkat ke layar lebar oleh Hollywood di dalam animasi blockbuster "Finding Nemo", berubahnya ekosistem merusak keseimbangan daya penciuman, yang mereka gunakan untuk menemukan tanaman laut yang mereka andalkan sebagai tempat perlindungan.

Simpanan ikan salmon merosot bukan hanya akibat penangkapan secara berlebihan tapi juga karena rendahnya tingkat oksigen karena peningkatan temperatur mendorong kerentanan terhadap penyakit dan mengganggu perkembang-biakan.

Pembicaraan iklim PBB bertugas menempa penyelesaian yang langgeng bagi pemanasan global dan membantu negara miskin menangani konsekuensinya. Pembicaraan tersebut dijadwalkan berakhir dengan pertempuan tingkat tinggi pada Jumat dan dihadiri oleh sebanyak 120 kepala negara dan pemerintah.


Sumber: ANTARA News (Selasa, 15 Desember 2009 11:19 WIB)

Selengkapnya....

Sinar Mas Siap Diskusikan Temuan Greenpeace

Jakarta (ANTARA News) - PT Sinar Mas menyatakan siap mendiskusikan temuan organisasi lingkungan internasional Greenpeace yang menyoroti masalahpembukaan lahan kelapa sawit oleh perusahaan penghasil CPO itu, demikian siara pers Sinar Mas di Jakarta, Sabtu.

Perusahaan itu menyatakan sangat menyesalkan jika upaya pemantauan lingkungan dilakukan secara sepihak dengan berlandaskan pada data serta klaim yang tidak akurat, dibesar-besarkan, dan digeneralisasi bahkan cenderung menyesatkan.

Dua hari sebelumnya, Greenpeace mengeluarkan laporan yang menyebutkan sejumlah masalah yang dilakukan Sinar Mas dalam pengelolaan lahan kelapa sawit, antara lain di Papua, Riau, dan Kalimantan.

Untuk kasus di Riau, perusahaan itu dinilai menghasilkan emisi tahunan sebesar 2,5 juta ton CO2 akibat pembukaan lahan gambut. Untuk Kasus di Kalimantan Barat, perusahaan itu dituding melakukan pembukaan lahan secara tidak sah.

Menanggapi laporan itu, Sinar Mas menyatakan siap berdialog soal emisi di Riau, sedangkan mengenai kasus di Kalimantan Barat, perusahaan itu menyatakan telah memperoleh perizinan yang diperlukan sehingga telah beroperasi secara sah.

"Kami mengapresiasi setiap upaya dari para pihak yang mencoba mendorong industri sawit untuk senantiasa mengedepankan praktik agribisnis terbaik, karena memang hal itu pula yang menjadi fokus kami selama ini, dengan berpegang pada ketentuan dan regulasi pemerintah Indonesia serta kaidah-kaidah internasional yang berkenaan dengan lingkungan," demikian Sinar Mas.

Jika memang ditemukan sebagian dari aspek operasi yang terlihat tidak selaras dengan prinsip keberlanjutan dan kelestarian lingkungan, perusahaan itu menyatakan siap mendiskusikannya berdasarkan fakta yang jelas dan nyata dalam dialog yang profesional untuk menyusun langkah perbaikan dan mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.


Sumber: ANTARA News (Sabtu, 12 Desember 2009 17:34 WIB)

Selengkapnya....

Komodo Tak Lagi jadi Tujuh Keajaiban Alam

Komodo/ilustrasi. (Istimewa/ANTARA)

Kupang (ANTARA) - Komodo, satwa langka yang dipercaya dinosaurus terakhir di muka buma, tergeser dari posisi lima besar menjadi 17 dari 28 finalis "tujuh keajaiban alam", demikian Kepala Dinas Parawisata Seni dan Budaya NTT, Ansgerius Takalapeta di Kupang, Sabtu.

Padahal hampir setengah tahun, terhitung Juli 2009 hingga November, binatang bernama latin Varanus Komodoensis in menjadi lima besar setelah Hutan Amazone di Brazil, Pulau Bu Tinah di Uni Emirat Arab, Pulaua Galapagos di Ecuador dan Sungai Iguanzu Falls di Brazil.

"Posisi Komodo saat ini, bertengger diurutan 17 besar dari 28 finalis, setelah sukses menyingkirkan Pulau Milford Sound dari New Zealand yang pada pekan sebelumnya menduduki posisi lima," kata Ansgerius.

Bergesernya posisi Komodo bukan karena lemahnya dukungan masyarakat yang tidak tertarik lagi dengan satwa langka ini, tetapi karena kesibukan dan faktor gangguan jaringan saat seleksi online lewat internet, katanya.

"Mari kita satu hati memberikan suara memilih Komodo melalui fasilitas media internet yang tersedia. Masyarakat NTT harus lebih banyak memberikan suara daripada daerah lain sebagai bentuk dukungan terhadap Komodo. Usaha ini sebagai langkah untuk mengangkat Komodo di mata dunia," ajaknya.

Suara masyarakat bisa disalurkan ke http://www.blogger.com/www.new7wonders.com.

"Kita punya waktu sampai 2011 untuk memilih dan membuat Pulau Komodo masuk dalam tujuh keajaiban dunia. Karena itu, jangan sia-siakan waktu dan kesempatan yang ada," ajaknya.


Sumber: ANTARA News (Sabtu, 12 Desember 2009 10:09 WIB)

Selengkapnya....

Kamis, 17 Desember 2009

Kalbar Siap, Asal Ada Kompensasi

Pontianak (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat siap menjaga hutannya, asal ada kompensasi dari negara-negara industri atau penghasil karbon, terutama untuk masyarakat yang hidup sekitar hutan, demikian Kepala Dinas Kehutanan Kalbar, Cornelius Kimha di Pontianak, Sabtu.

"Di satu sisi kita harus menjaga agar hutan tidak ditebang, sementara di sisi lain masyarakat sekitar hutan juga harus dimakmurkan," katanya.

Cornelius berharap, negara-negara industri berperan menjadi donatur bagi rahabilitasi dua juta hektare hutan kritis yang ada di provinsi itu.

"Jangan mereka hanya bisa mendikte Kalbar harus menjaga hutan, tetapi tidak memberikan modal kepada kami untuk merehabilitasi hutan kritis tersebut," katanya.

Kimha mengatakan, dari 14 kabupaten dan kota di provinsi itu hanya dua kabupaten yang mendapat bantuan program Gerhan (Gerakan Rehabilitas Hutan dan Lahan), yaitu Kabupaten Bengkayang sebesar Rp900 juta dan Sekadau Rp1,2 miliar.

Sebelumnya, Gubernur Cornelis menengarai negara industri penghasil carbon "cuci tangan" terhadap perubahan iklim, dan menuduh provinsi yang dipimpinnya perusak hutan karena mengambil tanah adat masyarakat Dayak untuk perluasan perkebunan sawit, pertambangan serta dan hutan tanaman industri (HTI).

"Negara industri komplain dengan kebijakan itu karena dinilai berdampak pada perubahan iklim," kata Cornelis.

Cornelis menjelaskan, baru-baru ini dia diundang Gubernur California Arnold Alois Schwarzenegger untuk menjelaskan kondisi hutan Kalbar akibat perluasan perkebunan, kebakaran dan lain-lain.

Selain itu, dia akan menghadiri pertemuan PBB tentang perubahan iklim di Copenhagen, Denmark, dimana dia akan menjelaskan upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam menghadapi pemanasan global. Gubernur Kalbar berangkat bersama rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Data dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dishut Kalbar, hutan yang benar-benar kritis di provinsi ini sekitar 1,05 juta hektare dari total 14,6juta hektare.

Sementara potensi lahan kritis di provinsi itu seluas 6,05 juta hektare, yang terdiri lahan agak kritis 5,6 juta hektare dan lahan benar-benar kritis 1,05 juta hektare.

Dari data Pusat Info Kehutanan Departemen Kehutanan, Gerhan tahun 2003 di targetkan 300 ribu hektare dengan capaian 68,67 persen, 2004 seluas 500 ribu hektare dengan capaian 61,31 persen, 2005 seluas 600 ribu hektare dengan capaian 63,85 persen, 2006 seluas 700 ribu hektare capaian 68,87 persen, dan tahun 2007 seluas 900 ribu hektare dengan capaian hampir 100 persen, yang tersebar di 15 provinsi, 145 kabupaten/kota.

Pemerintah menargetkan Gerhan di tahun 2009 seluas 5 juta hektare.


Sumber: ANTARA News (Sabtu, 12 Desember 2009 12:19 WIB)

Selengkapnya....

Hutan Bakau Bali Terbaik di Asia

Denpasar (ANTARA News) - Hutan bakau seluasa 1.343,5 hektar di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali, menjadi kawasan hutan mangrove terbaik di Indonesia, bahkan sekawasan Asia.

Berkat keberhasilan mengembangkan dan melestarikan berbagai jenis tamanan yang tumbuh subur dan lebat, menjadikan kawasan itu menjadi rujukan studi banding para ahli mancanegara, kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali Anak Agung Ngurah Buana di Denpasar Jumat.

Ia mengatakan, selain para ahli yang datang dari sejumlah negara di belahan dunia yang ingin meniru keberhasilan pengembangan hutan bakau, juga datang dari sejumlah daerah di Indonesia.

Rombongan para ahli yang pernah melihat dari dekat kawasan bakau Taman Raya Bali Selatan antara lain dari Jepang, Jerman, Pilipina, Italia dan Amerika Serikat.

Delegasi Pilipina misalnya, beranggotakan sebelas orang yang terdiri atas para ahli hutan bakau untuk studi banding mengenai pengelolaan lingkungan, khususnya kawasan pesisir.

Delegasi yang dipimpin penasehat ahli Masalah Lingkungan Pesisir Pilipina Rolando L. Metin dalam kunjungannya ke Bali melihat dari dekat pengembangan hutan bakau.

Demikian pula delegasi dari negara lainnya secara khusus mengadakan pertemuan dengan pihak Balai Pengelola Hutan Mangrove, dan Dinas Kehutanan Bali serta melihat dari dekat berbagai kegiatan di kawasan tersebut.

AAN Buana menambahkan, Bali menjadi proyek percontohan pengembangan hutan bakau, kerjasama Departemen Kehutanan RI dengan "Japan International Cooperation Agency-JICA" di kawasan mangrove Suwung, Bali Selatan.

Proyek yang dimulai sejak tahun 1993 itu dinilai cukup berhasil mengembangkan dan melestarikan berbagai jenis tamanan, bahkan beberapa diantaranya mengandung potensi sebagai bahan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit.

Kawasan seluas 1.343,5 hektar itu ditata sedemikian rupa, dihubungkan dengan jalan setapak, sehingga menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat kota Denpasar maupun wisatawan mancanegara.

Masyarakat setempat juga biasa menjadikan kawasan hutan bakau sebagai tempat rekreasi seperti memancing ikan.

Kawasan hutan bakau lokasinya memanjang di pesisir selatan pantai Bali, di sekitar kawasan Pelabuhan Benoa hingga dekat bandara Ngurah Rai, penanamannya masih terus dilakukan secara berkesinambungan.

Kawasan hutan bakau yang ditangani secara intensif oleh 42 tenaga, separuh diantaranya tenaga teknis Balai Pengelolaan Hutan Mangrove serta dua tenaga ahli dari Jepang, tuturnya.

Bali memiliki kawasan hutan bakau seluas 1.373 hektar, hingga kini masih terus diupayakan penanaman dan pemeliharaan, dengan harapan mampu berfungsi sebagai "paru-paru" kota.


Sumber: ANTARA News (Jumat, 11 Desember 2009 13:28 WIB)

Selengkapnya....

Pembukaan Sawah di TNKS Masih Berlanjut

Bengkulu (ANTARA News) - Pencetakan sawah baru di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Desa Sungai Ipuh Kecamatan Selagan Raya Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, hingga kini masih berlangsung, meskipun pihak Balai Besar TNKS sudah melarangnya.

"Pembukaan sawah dengan membabat hutan di TNKS masih terjadi, padahal sudah dilakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka menghentikan aktivitasnya," kata Direktur Yayasan Genesis Mukomuko Barlian, Rabu.

Hal itu disampaikannya saat melakukan koordinasi dengan delapan lembaga anggota Aliansi Konservasi Alam Raya (AKAR) tentang penyelamatan TNKS di Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Jambi.

Luas hutan yang akan dialihfungsikan menjadi areal persawahan mencapai 300 hektare (ha), dan saat ini sudah dibuka seluas 100 ha.

"Niat masyarakat untuk membuka areal persawahan masih berlanjut dan penebangan hutan untuk merintis sawah masih terjadi di lapangan," katanya.

Barlian mengatakan pihaknya sudah menjembatani pertemuan antara masyarakat dan pihak Balai Besar TNKS untuk menjelaskan fungsi kawasan hutan dan ekosistemnya.

Namun, pertemuan tersebut tidak sesuai dengan harapan dan masyarakat masih terus berniat membuka kawasan yang menjadi hulu air Sungai Selagan itu.

"Padahal, saat ini sudah dibangun jaringan PDAM yang mengambil air Sungai Selagan untuk kebutuhan air bersih masyarakat Mukomuko," katanya.

Alih fungsi hutan menjadi areal persawahan secara langsung akan berdampak pada kualitas air PDAM karena areal tersebut berada di hulu sungai.

Barlian berharap polisi kehutanan (Polhut) TNKS bertindak tegas untuk memberikan efek jera terhadap masyarakat yang masih melakukan aktivitas pembukaan hutan.

"Sebaiknya Polhut menahan masyarakat yang membuka kawasan hutan agar masyarakat yang lain tidak meneruskan niat mereka membuka kawasan hutan," katanya.


Sumber: ANTARA News (Jumat, 11 Desember 2009 05:58 WIB)

Selengkapnya....

mp3 qu