2009-05-31

Ditemukan Gunung Api Raksasa di Bawah Laut

BENGKULU (RP) - Bengkulu bukan hanya daerah rawan gempa. Info terbaru, para ahli geologi menemukan gunung api raksasa di bawah laut Bengkulu. Gunung api tersebut berdiameter 50 Km dan tinggi 4.600 meter. Lokasinya berada 330 Km arah barat Kota Bengkulu.

Gunung api di bawah laut ini ditemukan oleh tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Prancis. Yakni dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.

“Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman kepada wartawan, kemarin. Penemuan gunung api di bawah laut Bengkulu ini saat dilakukan survei dengan menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGG Veritas. Tepatnya di Palung Sunda di Barat Daya Sumatera, di kedalaman 5,9 kilometer dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut.

Survei ini merupakan yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 Km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik. Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 Km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high) dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera.


Menurut Peneliti LIPI, Dr Ir Danny Hilman Natawidjaja dari hasil survei mereka gunung tersebut masuk kategori gunung berapi. Namun belum bisa dipastikan secara detail apakah aktif atau tidak.


“Itu hasil temuan tim. Kalau kita lihat ukurannya memang luar biasa. Jauh lebih besar dibandingkan gunung berapi di Jogjakarta yang hanya 3.600 meter atau gunung berapi di Sumatera yang rata-rata tingginya mencapai 3.000 meter atau 3 kilometer. Untuk mengetahui aktif atau tidaknya harus kita teliti lebih lanjut. Kebiasaan gunung berapi yang berada di palung seperti itu tidak aktif. Hanya saja, berhubung palung tersebut adalah tempat pertemuan lempengan Eurosia dan Indo Australia yang saling bertubrukan kemungkinan aktif. Nah, seberapa aktifnya, kami juga belum tahu,” ungkap Danny, malam tadi.


Berbahayakah keberadaan gunung ini? Danny menjelaskan, jika gunung ini aktif dan mengandung magma tentunya berbahaya. Bila meletus, dapat menyebabkan tsunami yang bisa menerpa Pulau Enggano dan pantai Kota Bengkulu. Nah, seberapa hebatnya daya letus gunung dan besaran tsunami masih harus diteliti lebih dulu.


Sebaliknya jika gunung tersebut tidak aktif, maka Bengkulu aman dari peluang bencana letusan gunung berapi, yang dapat menyebabkan gempa bumi dan tsunami. “Untuk memastikan gunung tersebut aktif atau tidak tergantung bagaimana hasil penelitian lanjutannya. Kalau tidak aktif sih, masyarakat Bengkulu nggak perlu khawatir,” analisa Danny.


Hal senada juga ditegaskan Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman. Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar geologi belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini. “Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” katanya.


Yang jelas, sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.


Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).


Diakui Danny, temuan ini sangat menarik bagi peneliti. “Bagi kita itu menarik, asyik malah. Diteliti atau tidak tergantung dananya. Kita lihat peluangnya nanti, akan diteliti lebih lanjut atau tidak. Yang jelas, kalau melihat posisinya gunung ini sudah ada sejak lama,” kata Danny lagi.


Sementara Kepala BMG Kepahiang, Dadang Permana mengaku belum tahu info tersebut. Hanya saja, kalau melihat posisinya Dadang menjelaskan, Palung Sunda tersebut tempat lempengan Indo Australia menabrak lempengan Eurosia. Ada kemungkinan, gunung berapi ini aktif. Karena berada di daerah aktif gempa, akibat tubrukan kedua lempengan tersebut.


BMG bisa saja melakukan analisa, terhadap getaran gempa yang muncul dari palung tersebut mengandung magma atau tidak. Penelitian ini harus detail, satu per satu getaran harus dianalisa dengan menggunakan tomografi. Prinsip kerja alat ini, sama dengan CT scan. Bedanya kalau CT Scan menggunakan sinar infra merah, sedangkan tomografi dengan gelombang gempa.


Dadang juga menyatakan, jarak Bengkulu dengan Pulau Enggano mencapai 200 kilometer. Artinya kalau 330 kilometer, masih 130 kilometer dari Pulau Enggano arah ke barat. Posisi palung berada di sebelah Selatan Mentawai, dimana lempengannya kini mulai bergerak.


“Getaran gempa dari pusat gunung yang mengandung magma beda dengan getaran gempa biasa. Kita bisa ceritakan melalui analisa lebih lanjut. Kalau di BMG mungkin 2-3 tahun lagi bisa melakukan penelitian seperti ini. Kalau melihat petanya, kawasan palung itu kawasan aktif gempa. Kemungkinan di sana panas. Jujur saya baru dengar info ini,” terang Dadang.(yoh/jpnn)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Sabtu, 30 Mei 2009 , 08:50:00)

Penanganan Karhutla Belum Maksimal

PEKANBARU, Tribun- Ketua Komisi C DPRD Riau, Robin P Hutagalung, menilai masalah asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau merupakan persoalan lama namun, hingga kini penanganannya belum maksimal dilakukan instansi pemerintahan terkait. Selama ini setiap terjadi karhutla selalu dipadamkan oleh hujan, bukan karena kinerja pemerintah."Kalau wartawan tanya, kebakaran hutan dan asap ini adalah masalah lama namun hingga kini belum tertangani dengan baik. Asap akan datang seiring dengan datangnya musim kemarau dan kembali padam ketika hujan tiba. Jadi padamnya api bukan karena prestasi dan upaya pemerintah daerah," ujar Robin kepada satuRiau.com, Sabtu (30/5).

Dalam upaya pemadaman karhutla di seluruh daerah di Riau, Robin mengakui kalau pemerintah daerah telah berupaya akan tetapi upaya tersebut tidak dibarengi dengan cara-cara efektif, karena masih menggunakan cara-cara yang konvensional dalam memadamkan api sehingga tidak optimal."Yang terjadi selama ini adalah pemerintah hanya berupaya memadamkan api tidak tidak ada upaya yang lebih prepentif," kata Robin.Kedepan, untuk tidak terus berlarut-larut dalam perdebatan mengenai penanggulangan karhutla di Riau ia menyarankan agar pemerintah merekrut tenaga-tenaga baru untuk di tempatkan di desa-desa atau kelurahan. Tenaga muda ini bisa digunakan untuk menjadi tenaga penanganan karhutla, dan pemantau ilegal loging.(dan)

Sumber: Tribun Pekanbaru
(Minggu, 31 Mei 2009 | 02:19 WIB)

500 Ha Gambut Terbakar di Rohil

PEKANBARU (RP) - Sedikitnya 500 hektare lahan gambut di Kelurahan Tanjungselamat Kecamatan Simpangkanan Baganbatu, Kabupaten Rokan Hilir terbakar hebat sejak Kamis (28/5) dan menimbulkan kepulan asap tebal ke udara.

Akibat kebakaran itu, udara Kota Baganbatu di perbatasan Riau-Sumut dan Kota Bagansiapi-api diselimuti kabut asap dan warga mulai menggunakan masker. Demikian dikatakan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau Zulkifli Yusuf SH diwakili Kasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Dishut Riau Said Nurjaya SH dan Kasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Dishut Rohil Heriyanto, kepada Riau Pos, Jumat (29/5).

Menurut Said Nurjaya SH, pihaknya telah dikontak Dishut Rohil agar mengirimkan bantuan personel pemadam kebakaran hutan dan lahan dari Dishut Riau. Namun Dishut Riau kata Said, meminta Dishut Rohil membuat surat resmi permintaan bantuan ke Dishut Riau. Menurut Said Nurjaya SH, sudah dua tim turun ke Rohil yakni petugas Manggala Agni dan Tim Redam Rohil. Namun upaya pemadaman mengalami kesulitan karena lahan yang terbakar cukup luas sekitar 500 hektare. Lagi pula 75 persen lahannya bergambut.

Bantuan yang dikirimkan Dishut Riau adalah 30 pemadam, dua mobil pemadam, tiga mobil patroli, tiga mesim pompa air dan kelengkapannya, 30 baju pemadam kebakaran untuk para personel.


16 Hotspot

Dalam pada itu, dari pantauan satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NoAA) 18, Jumat (29/5), yang dipantau Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, ditemukan 16 hotspot di tujuh kabupaten di Riau. Selain itu, cuaca dengan suhu 35 derajat celsius masih terasa menyengat khususnya di Kota Pekanbaru. Namun secara keseluruhan jumlah hotspot mengalami penurunan dari hari sebelumnya sebanyak 35 hotspot.


Dari 7 kabupaten penyumbang hotspot, kini giliran Pelalawan penyumbang terbanyak dengan 9 hotspot. Rokan Hilir yang tiga hotspot dan Rokan Hulu, Dumai, Kampar, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hulu masing-masing 1 hotspot.


Dilaporkan juga, total hotspot untuk pulau Sumatera tertangkap 29 hotspot. termasuk Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, masing-masing tiga hotspot, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, dan Lampung juga menyumbang masing-masing satu hotspot.


‘’Ya, jumlah hotspot mulai berkurang jumlahnya. meski kita tidak tahu besok atau lusa akan ada lagi, tapi yang pasti untuk hari ini (Jumat,red) jumlah berkurang dari angka sebelumnya,” kata Staf analisa BMKG, Marzuki kepada Riau Pos.


Kabut asap tebal yang terjadi pada pagi hari, yang membuat sesak dan menganggu mata dengan jarak pandang 1.000 meter juga dialami oleh masyarakat kota Pekanbaru. Namun kondisi ini masih aman untuk penerbangan di Bandara SSK II.


“Saya sampai menghidupkan lampu sepeda motor saya untuk memberi tanda kepada pengendara yang berlawanan arah, mata perih jadinya dan sesak nafas,” ujar salah seorang warga Gobah, Amri yang baru pulang dari tempat ia bekerja pukul 06.30 WIB. Sementara itu, BMKG juga memprediksikan untuk curah hujan peluangnya sangat tipis terjadi, dan jika terjadi itu pun dengan intenstas ringan.(azf/cr1)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Sabtu, 30 Mei 2009 , 08:01:00)

Pendidikan Lingkungan Hidup di Taman Nasional Tesso Nilo (2-3 Mai 2009)

























5.000 Lebih Pohon Sudah Ditanam

PEKANBARU (RP) -Lebih dari 5.000 pohon yang sudah ditanam oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) mulai Januari-Mei ini. Penanaman ribuan tersebut ditempatkan di jalan-jalan utama di pinggir kota. Karena penanaman pohon di pinggir kota menjadi program utama penghijauan oleh DKP pada tahun 2009 ini.

‘’Jalan-jalan utama di empat kecamatan, yaitu kecamatan Rumbai, Rumbai Pesisir, Payung Sekaki dan Tampan jadi prioritas untuk ditanami pohon penghijau pada tahun 2009 ini,’’ kata Kepala Dinas DKP Maiyulis Yahya kepada Riau Pos, Jumat (29/5) di kantor Wali Kota.

Penanaman pohon yang sudah dilakukan pada bulan Mei ini saja menjadi prioritas yaitu jalur hijau Jalan Soekarno-Hatta yang baru saja selesai dibangun. Adapun pohon yang ditanam pada jalur hijau jalan protokol tersebut yaitu pohon mahoni dan angsana.

Dari data di lapangan jalur hijau Soekarno-Hatta terutama mulai dari simpang Jalan Durian hingga Jalan Tambusai sudah mulai ditanami pohon mahoni. ‘’Penanaman ratusan pohon di Jalan Soekarno-Hatta sekaligus dengan biaya pemeliharaannya, sebab anggaran pemiliharaannya sudah ada dalam APBD tahun 2009 ini,’’ ujar Maiyulis Yahya.


Untuk memeriahkan kegiatan hari Jadi ke-225 Pekanbaru DKP juga memprogramkan penanaman seribu pohon. Adapun lokasi yang menjadi prioritas yaitu di Jalan Soebrantas di Kecamatan Tampan.


Kemudian di Kecamatan Rumbai dan Rumbai Pesisir, terutama di sepanjang turap Sungai Siak. Adapun pohon yang akan ditanam yaitu pohon matoa.


Dikatakannya untuk ruas jalan utama sengaja tak ditanam pohon penghijau seperti matoa, mangga dan lainnya. Tapi lebih pohon mahoni dan angsana.


‘’Kalau pohon mangga dan matoa diutamakan di Jalan Lingkungan sehingga dijaga masyarakat,’’ tegasnya. (esi)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Sabtu, 30 Mei 2009 , 07:49:00)

2009-05-30

Sumatra Barat,,,, Temuan Gunung Api Masih Bersifat Informasi

PADANG— Karena keaktifan gunung api tersebut belum bisa dipastikan, maka para peneliti belum memberikan rekomendasi langkah tertentu ke badan penanggulangan bencana. Pemda yang wilayahnya berada di sekitar gunung api itu juga belum mendapatkan instruksi untuk mengambil langkah tertentu untuk menyikapi keberadaan gunung api di bawah laut.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Komda Sumatera Barat Ade Edward, Sabtu (30/5), mengatakan, temuan gunung api bawah laut itu sementara masih bersifat informasi.

"Sejauh ini, riset yang dilakukan para ahli belum final. Setidaknya, hasil riset memastikan kecurigaan sejumlah orang atas keberadaan gunung api di bawah laut. Tapi, para ahli masih perlu membuktikan gunung api itu aktif atau tidak," ujar Ade.

Gunung api yang masih aktif ditandai dengan material yang dikeluarkan dari gunung, seperti material padat, cair, atau lava. Bila tidak ada material yang dikeluarkan oleh gunung api, maka gunung itu merupakan gunung api yang mati. Pengeluaran material inilah yang masih diteliti oleh para ahli.

Dari sisi ancaman, energi yang tersimpan pada gunung api ini tidak sebesar energi yang bisa membangkitkan gempa dan tsunami. Namun, sebagai bagian dari sistem tektonik lempeng, seluruh aspek yang ada di bawah laut ini perlu dipelajari.


Data tentang gunung api bawah laut ini perlu diperoleh karena gunung berada di daerah rawan tsunami, yakni di zona penghujaman lempeng Eurasia dan lempeng India-Australia. Selama ini masih berkembang prediksi ahli bahwa adanya energi besar yang tersimpan dari pertumbukan lempeng itu. (kompas.com)


Sumber: Tribun kaltim
(Sabtu, 30 Mei 2009 | 17:06 WITA)




Sekitar 40 gajah masuk ke perkampungan warga

PEKANBARU, KOMPAS.com — Sekitar 40 gajah masuk ke perkampungan warga di Kelurahan Balai Makam, Mandau, Kabupaten Bengkalis, hingga mengakibatkan rusaknya areal perkebunan di daerah tersebut.

"Empat puluhan gajah mengamuk, mereka memakan dan merusak perkebunan warga," kata Husin, warga setempat yang dihubungi dari Pekanbaru, Rabu (27/5). Kawanan gajah tersebut tidak merasa terusik saat warga berupaya mengusir kawanan liar tersebut. "Gajah-gajah itu tidak takut meski dihalau warga dan terus saja merusak perkebunan," katanya.

Husin juga mengatakan bahwa gajah-gajah itu tidak mempedulikan saat warga mencoba mengusir dengan memperdengarkan bunyi-bunyian. "Bahkan, warga setempat menjadi ketakutan dengan banyaknya gajah yang masuk ke perkampungan," katanya.

Sementara itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau mengaku telah menerima laporan terkait masuknya kawanan gajah liar di Kecamatan Mandau. Pihak BBKSDA langsung menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengirimkan tim ke lokasi guna membantu warga mengusir kawanan gajah liar tersebut.


Kepala Teknis Konservasi BBKSDA Riau Sahimin mengatakan, pihaknya telah menerjunkan tim ke lokasi guna membantu warga mengusir gajah.


Sumber: Kompas
(Rabu, 27 Mei 2009 | 19:26 WIB)

BLH Riau Gelar Serangkaian Kegiatan Sempena Hari LH Sedunia

Serangkaian kegiatan telah dan akan digelar Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Riau. Acara puncak digelar di Alam Mayang 6 Juni mendatang.

Riauterkini-JAKARTA-Sempena peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang setiap tahun diperingati pada 5 Juni, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Riau akan dan telah menggelar serangkaian acara. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut mengusung tema “Bersama Selamatkan Bumi dari Perubahan Iklim”.

Menurut Kepala BLH Riau Fadrizal Labay yang didampingi Kasubag Umum dan Kepegawaian BLH Riau Maradona di sela-sela mengikuti Pekan Lingkungan Indonesia 2009 di Jakarta Convetion Center (JCC), Jumat (29/5), acara yang tengah digelar berupa ambil bagian pada Pekan Lingkungan Hidup Indonesia 2009. “Keikutsertaan kita pada Pekan Lingkungan Indonesia 2009 merupakan rangkain dari peringatan hari lingkungan hidup sedunia tingkat Provinsi Riau,” papar Labay.

Untuk peserta Pekan Lingkungan Indonesia 2009 dari Provinsi Riau terdiri dari empat sektor. Pertama pemerintah yang terdiri dari Pemprov Riau dan enam kabupaten/kota, yakni Pemko Dumai, Pemkab Bengkalis, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kuantan Singingi dan Indragiri Hulu. Sedangkan swasta terdiri dari tiga sektor, yakni sektor Pulp And Paper, minyak dan gas serta industri dan perkebunan kelapa sawit.


Sektor Migas terdiri dari delapan perusahaan, antara lain PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI), Badan Operasi Bersama PT. Bumi Siak Pusako dan Pertamina Hulu, PT. Kondur Petrolium dan lainnya. Sedangkan untuk sektor Pulp And Paper diikuti dua perusahaan, yakni PT. Riau Andalan Pulp And Paper dan PT. Indak Kiat Pulp And Paper. Sementara sektor kepala sawit diikuti 17 perusahaan yang dikoordinir Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Provinsi Riau.


Selanjutnya Maradona menambahkan, rangkaian kegiatan lainnya adalah Peringatan Puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingka Provinsi Riau yang akan digelar di Taman Rekreasi Alam Mayang pada 6 Juni mendatang. “Pada kesempatan tersebut akan digelar sejumlah kegiatan, seperti lomba mewarnai tingkat TK, lomba menggambar tingkat TK dan SD yang diikuti perwakilan setiap kabupaten dan kota dengan jumlah peserta sekitar 500 orang,” papar Maradona.


Selain peserta tingkat TK dan SD, kegiatan tersebut diperkirakan akan dihadiri sekitar seribu peserta. Para peserta juga berkesampatan menyaksikan pemutaran film documenter mengenai kelestarian dan pengelolaan lingkungan.


Dipilihnya Alam Mayang sebagai lokasi, menurut Maradona adalah bagian dari mengenalkan anak-anak usia dini pada pentingnya kembali pada alam. “Kita berharap generasi mendatang memiliki kesadaran lebih dini mengenai penting kembali pada alam dan kelestariannya,” harapnya.

Kegiatan lanjutan, masih dalam rangkaian peringatan hari lingkungan hidup sedunia, berupa upacara peringatan yang dilakukan pada 17 Juni di halaman kantor Gubernur Riau. Pada kesempatan itu akan diserahkan sejumlah penghargaan, seperti Adiwiyata, penghargaan untuk sekolah yang memiliki wawasan lingkungan, penghargaan Setya Lestari Bumi, penghargaan untuk individu dan kelompok masyarakat yang dinilai memiliki komitmen dan kepedulian dalam melestarikan lingkungan hidup.


“Selain itu juga akan kita serahkan hadiah bagi pemenang lomba kreatifitas pemanfaatan limbah tingkat SMP, SMU dan umum. Proses seleksi untuk seluruh penghargaan dan pemenang lomba sedang berlangsung,” papar Maradona.***(mad()


Sumber: Riau Tekini
(Jum’at, 29 Mei 2009 14:51)

Kabut Asap Kembali Menyelimuti Kota Pekanbaru

PEKANBARU (RiauInfo) - Kabut asap yang berbau tengik kembali menyelimuti kota Pekanbaru, Jumat (29/5). Sejak subuh tadi, terlihat suasana kota Pekanbaru dan sekitarnya masih gelap karena selimuti kabut tebal.

Tidak hanya itu, kabut asap kali ini berbau tengik dan membuat perih mata serta menganggu pernafasan. "Tapi pagi saya berbelanja di Pasar Pagi dalam suasana kabut asap, sekarang mulai terasa tenggorokan saya kering," ungkap Wati, warga Simpang Panam.

Dia mengatakan, setiap kabut asap turun di Pekanbaru dirinya selalu menderita sesak nafas. Soalnya pernafasannya sangat sensitif dengan udara buruk. "Makanya ketika pagi tadi terlihat banyak kabut asap, saya hanya sebentar saja di pasar," ungkapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Ny Rosmini (32) ibu rumah tangga warga Jalan Utama, Kulim. Dia mengaku tenggorokannya kering dan perih setelah pulang mengantar anaknya ke sekolah. "Sampai sekarang tenggorokan kering dan perih itu masih terasa," ujarnya.


Ibu dari tiga orang anak ini melihat kondisi kabut asap di Pekanbaru bukannya berkurang, malah semakin parah saja. "Saya heran dengan kondisi ini, seakan-akan kota Pekanbaru tidak pernah lepas dari masalah kabut asap ini," tambahnya.(ad)


Sumber: Riau Info
(29 May 2009 09:47 wib)

Swasta Wajibkan Ikut Selamatkan Bumi

JAKARTA (RP) - Pekan Lingkungan Indonesia (PLI) 2009 yang berlangsung di Jakarta Convention Centre Hall B dimeriahkan oleh pameran yang diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai lembaga seluruh Indonesia, termasuk Provinsi Riau. Untuk Riau diikuti beberapa sektor, di antaranya sektor pulp, sawit, dan migas.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau Fadrizal Labai, Kamis (28/5) di Jakarta sekaligus penanggung jawab pameran Lingkungan di JCC mengatakan, sektor pulp diikuti oleh RAPP. Pameran yang mengusung tema ‘’Menyelamatkan Bumi dari Perubahan Iklim’’ tersebut tidak hanya tugas pemerintah saja, tetapi pihak swasta juga ikut bertanggung jawab meyelamatkan bumi ini dari perubahan iklim termasuk salah satunya PT RAPP.

Menurutnya RAPP selama ini sudah menjalankan upaya tersebut dengan baik. Hal itu terbukti dengan status hijau yang didapatkan oleh mereka. Nilai ini dianggap sudah cukup baik dalam menjaga lingkungan walaupun masih dibawah nilai golden atau nilai tertinggi.

Pencapaian nilai tersebut diukur dari empat katagori, diantaranya, air, udara, limbah B3 dan program CD. Dari keempat unsur ini RAPP berhasil meraih status hijau tersebut. ‘’Penanganan mereka terhadap empat unsur itu cukup baik dari penilaian KLH,’’ ujar Fadrizal.

Sementara itu, Corporate Affairs Director PT RAPP, Ketut P Wirabudi menambahkan, pihaknya akan terus berusaha berbuat sebaik mungkin untuk penyelamatan lingkungan. Disebut Ketut, penyelamatan itu tidaklah semata-mata mengejar status tersebut, tetapi bagaimana berpartisispasi dalam menyelamatkan bumi ini. Adapun status hijau yang telah disandang RAPP sejak tahun 2004 sampai 2008 tersebut, mereka sambut dengan baik.


‘’Kami terus berupaya untuk memperbaiki lingkungan karena mempertahankan lebih sulit dari mendapatkannya,’’ ujarnya.


Disebut Ketut, penilaian Peringkat Kinerja Penaatan dalam Pengelolaan Lingkungan mulai dikembangkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup, sebagai salah satu alternatif instrumen penaatan sejak tahun 1995. Program ini pada awalnya dikenal dengan nama Proper Prokasih.


Alternatif instrumen penaatan ini dilakukan melalui penyebaran informasi tingkat kinerja penaatan masing-masing perusahaan kepada stakeholder pada skala nasional.(noi)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Jum'at, 29 Mei 2009 , 08:39:00)

Desa Buluhcina Wakili Riau untuk Rebut Piala Kalpataru

Kearifan loka masyarakat Desa Buluhcina dalam melestarikan hutan mendapat apresiasi positif. Desa tersebut mewakili Riau untuk merebut Piala Kalpataru dari presiden.

Riauterkini-JAKARTA- Desa Buluhcina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar diakui memiliki kearifan lokal yang sulit dicari setaranya di daerah lain di Riau, nilai-nilai lokal yang arif dalam melestarikan hutan itulah yang membuat desa di tepi Sungai Kampar tersebut berhasil menyihkan desa-desa lain di Riau untuk terpilih menjadi wakil Provinsi Riau dalam memperebutkan penghargaan bergensi bidang penyelamat lingkungan hidup: Piala Kalpataru.

"Untuk Piala Kalpataru tahun ini daerah kita diwakili Desa Buluhcina, setelah dinilai paling layak dari desa-desa lainnya dari beberapa kabupaten," ujar Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Riau Fadrizal Labay kepada riauterkini di sela-sela mengikuti Pekan Lingkungan Indonesia 2009 di Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta, Kamis (28/5/09).

Dijelaskan Labay, masyarakat Desa Buluhcina dengan kearifan lokalnya berhasil melestarikan hutan alam seluas 3.000 hektar. Sebuah langkah besar di tengah kegiatan pembabatan hutan yang terjadi besar-besaran di Riau. Hutan alam tersebut dipelira dengan lestari oleh masyarakat dan ada sanksi tegas bagi siapa saja yang berani merusaknya.


Nilai-nilai kearifan lokal yang sudah terbukti mampu menyelamatkan hutan dari kerusakannya tersebut, diharapkan Labay menjadi nilai lebih bagi Desa Buluhcina agar bisa mendapatkan penghargaan Piala Kalpataru dari presiden.***(mad)


Sumber: Riau Tekini
(Kamis, 28 Mei 2009 18:22)

Kapal Imigran Diduga Tenggelam Akibat Kabut Asap

Musibah kapal imigran gelap asal Afghanistan di Rohil diduga akibat kabut asap. Pandangan terbatas menyebabkan kapal menabrak bubu dan akhirnya tenggelam.

Riauterkini-PEKANBARU- Musibah tenggelamnya kapal pengangkut imigran gelap asal Afghanistan di perairan Pulau Halang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Kamis (28/5/09) dini hari tadi diduga akibat kabut asap. Sejak sepekan terakhir wilayah Rokan Hilir memang terus diselimuti kabut asap. Bahkan akibat kabut asap beberapa sekolah dasar sempat diliburkan.

“Ada kemungkinan salah satu sebab tenggelamnya kapal tersebut adalah kabut asap yang memang tebal. Sehingga membatasi jarak pandang yang akhirnya menyebabkan kapal menabrak bubu nelayan kemudian tenggelam,” papar Komandan Pos Angkatan Laut (Posal) Bagansiapi-api Letda Laut Al Muhfid kepada riauterkini yang menghubunginya, Kamis malam.

Dijelaskan Muhfid, jarak pandang di lokasi kejadian dan daerah sekitarnya memang terganggu akibat keberadaan kabut asap. Jangankan waktu dini hari, sampai siang, sekitar pukul 10.00 WIB asap masih menyebabkan jarak pandang terbatas. “Sampai jam sepuluh siang jarak pandang masih tak sampai satu mil,” tuturnya.


Mengenai jumlah korban meninggal, selamat dan hilang berubah. Tetap lima meninggal, 16 selamat dan 15 masih hilang. Korban selamat sudah dievakuasi ke Bagansiapi-api lewat jalur darat. Sedangkan satu jenazah dari lima korban meninggal baru beberapa saat lalu tiba di RSUD Bagansiapi-api. “Jenazah terakhir baru saja tiba di rumah sakit,” pungkas Muhfid.***(mad)


Sumber: Riau Tekini
(Kamis, 28 Mei 2009 20:59)

PT RAPP Ikuti Pekan Lingkungan Indonesia 2009

JAKARTA (RiauInfo) - Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2009, Kementrian Lingkungan Hidup menggelar Pekan Lingkungan Indonesia 2009. Kegiatan ini diikuti hampir seluruh Instansi Pemerintahan dan swasta serta lembaga swadaya masyarakat.

PT Riau Andalan Pulp And Paper (PT.RAPP) juga ambil bagian dalam kegiatan yang direncanakan akan dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden H. M. Jusuf Kalla, Kamis (28/8) besok.

Hal itu disampaikan Manajer Hubungan Media PT.RAPP kepada wartawan di sela-sela persiapan PT.RAPP pada pameran pekan lingkungan yang digelar di Jakarta Convention Centre (JCC) tadi malam.

Menurut Nandik seperti tahun-tahun sebelumnya, PT. Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) ikut berpartisipasi bergabung dengan Pemerintah Provinsi Riau melalui Badan Lingkungan Hidup bersama beberapa perusahaan lainnya. Pada kesempatan ini tema yang diusung dalam Pekan Lingkungan Indonesia tahun 2009 ini adalah Bersama Selamatkan Bumi dari Perubahan Iklim.


Dikatakannya, keikut-sertaan PT.RAPP dalam Pameran Pekan Lingkungan Hidup secara berkesinambungan merupakan peran serta aktif dunia usaha dalam mengampanyekan kelestarian lingkungan hidup.


“Pekan Lingkungan 2009 kali ini merupakan moment penting dalam menumbuhkan kepedulian masyarakat akan lingkungan hidup dan meningkatkan kemauan politik untuk perhatian dan aksi nyata pelestarian lingkungan” kata Nandik.


Ditambahkannya pula kegiatan pekan lingkungan hidup akan dijadikan juga oleh PT.RAPP sebagai media untuk menunjukkan komitmen perusahaannya dalam pelestarian lingkungan hidup di samping memaparkan juga konsep pengelolaan lingkungan hidup yang sangat diutamakan perusahaan dalam menjalankan usaha.(ad)


Sumber: Riau Info
(27 May 2009 20:22 wib)

59 Titik Kebakaran Hutan dan Lahan Merayap di Riau ROHIL TERBANYAK...


Surya
PEKANBARU (RiauInfo) - Peluang hujan kembali menipis di wilayah Provinsi Riau. Akibatnya, cuaca cerah berawan dengan suhu udara mencapai 34,5 derjat celsius kembali membuka peluang kebakran hutan dan lahan (karhutla). Sedikitnya 59 titik api tersebar di 9 daerah Provinsi Riau, Rabu (27/05/2009) ini.

Berdasar data satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 18, Badan Meteorologi Klimatol;ogi dan Geofisika (BMKG) melaporkan 20 itik api menyala di daerah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) yang terbanyak di Riau.

Sementara, 17 titik api lagi juga tersebar di daerah Kabupaten Pelalawan. Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) emmpunyai 6 titik. Berikutnya 5 titik api menyala di daerah Kabupaten Inderagiri Hulu (Inhu). Sedangkan daerah Kabupaten Siak, Kampar, Inderagiri Hilir (Inhil) masing-masing mempunyai 3 titik api. Tidak ketinggalan daerah Kabupaten Bengkalis dan Kuantan Singingi (Kuansing) maisng-masing dengan 1 titik api. Sehingga jumlah kebakran hutan dan lahan mencapai 59 titik di wilayah Provinsi Riau hari ini.

Kepala BMKG Pekanbaru Blucher Dologsaribu melalui staf analisa Slamet Riyadi mengatakan, hujan kian menipis akibat agresifnya gerakan angin yang memecah pembentukan awan di Riau. Sehingga cuaca panas dengan suhu tinggi selalu menjadi kesempatan berkembangnya titik api. BMKG menyatakan gerakan angin normal dengan kecapatan sedang. Peluang hujan ringan ada di Pekanbaru dan Kampar pada malam nanti. Namun berkemungkinan peluang itu akan gagal atau tidak ada hujan sama sekali di Riau hari ini.(Surya)


Sumber: Riau Info
(27 May 2009 16:57 wib)

2009-05-29

Berita Duka Dua Gajah Mati

PERANAP (RP) - Dua ekor gajah ditemukan tewas di areal HGU PT Rimba Peranap Indah (RPI) Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu, Kamis (28/5). Diperkirakan kedua gajah itu adalah ibu dan anak dan ditemukan pada dua lokasi berbeda berjarak sekitar 50 meter.

Humas PT RPI Subroto menjelaskan, kedua gajah itu ditemukan mati sekitar pukul 09.00 WIB oleh pengawas lapangan PT RPI di perkebunan akasia perusahaan itu. Pada tubuh gajah tersebut tidak ditemukan bekas luka serius, kecuali belalai berdarah, perut gembung serta gading pada gajah dewasa sudah tidak ada. ‘’Temuan ini sudah kita laporkan ke petugas KSDA Rengat,’’ kata Subroto.

Humas PT RPI ini tidak membantah saat ditanya apakah areal perusahaan sering dimasuki oleh gajah. Diakuinya belasan gajah sering memasuki areal perusahaan PT RPI, yang berbatasan dengan perkebunan sawit PTPN V serta Koperasi Pelangi Siampu Pesikaian. ‘’Kalau jarak ke Taman Nasional Teso Nilo (TNTN), tidak terlalu jauh juga, sekitar 50 kilometer, kira-kira setengah jam perjalanan,’’ aku Subroto. Dia memperkirakan, jika dilihat dari jumlah gajah yang sering dilihat oleh pengawas, tidak menutup kemungkinan jumlah gajah yang mati lebih dari dua ekor.

Pihak perusahaan ini juga mengaku tidak berani memindahkan bangkai gajah, karena itu kewenangan KSDA. Sehingga hingga Kamis sore, bangkai dua ekor gajah masih dibiarkan di lokasi penemuan.


Kepala Bidang KSDA Wilayah I Rengat Edi Susanto menjawab wartawan mengatakan, KSDA sudah menurunkan tim ke lokasi PT RPI, guna melihat kondisi gajah yang ditemukan mati. ‘’Rencananya kita memang akan menurunkan tim dokter untuk melakukan otopsi, untuk mengetahui penyebab tewasnya gajah ini,’’ ujar Edi.


Sejauh ini pihak KSDA wilayah I Rengat juga belum bisa memastikan penyebab kematian gajah itu. Namun pihaknya menduga beberapa penyebab diantaranya sengaja dibunuh menggunakan racun, perburuan gading gajah atau akibat kondisi alam.


‘’Kita akan mengusut penyebab matinya kedua gajah ini, karena kawasan itu awalnya memang lintasan gajah. Kalau diketahui matinya akibat diracun, tentu akan ada sanksi bagi pelaku,’’ tegas Edi. Dia menilai banyaknya pembukaan lahan perkebunan didaerah itu semakin membuat kawanan gajah makin terpojok dan kehilangan habitatnya.(fat)


Sumber Harian Pagi Riau Pos
(Jum'at, 29 Mei 2009 , 08:00:00)

2009-05-28

Lagu "Sagu Band" Bisa Meninggalkan Alamat email di Sini!

Hai para blogger smua na
Bagi Sobat blogger yang ingin mendengarkan Lagu Dari SAGU Band Yang Terbaru dapat meninggalkan alamat email di kotak coment..!
pasti di kirim ke 12 mp3 nya ke alamat email sobat

Free!!!
Barcon
Contact Person:
Ijal: 08174809203
Email: jemari.ijal@gmail.com

2009-05-27

Topan Aila Tewaskan 62 Orang di Banglades

DHAKA, KOMPAS.com — Topan Aila telah menewaskan sedikitnya 62 orang di Banglades. Menurut televisi swasta ATN di Dhaka, Selasa (26/5), jumlah korban yang tewas meningkat menjadi 62 orang, menyusul ditemukannya 44 jenazah lagi dari beberapa distrik pantai lainnya yang juga diterjang badai itu.

Topan tersebut menerjang beberapa bagian Banglades dan India timur, Senin, yang memicu gelombang pasang dan banjir yang memaksa setengah juta orang meninggalkan rumah mereka.

Para pejabat di kota-kota pantai Banglades memindahkan sekitar 500.000 orang ke tempat-tempat penampungan sementara, setelah mereka meninggalkan rumah-rumah mereka menyelamatkan diri dari gelombang pasang yang tinggi, disertai angin yang bertiup dengan kekuatan sampai 100 kilometer per jam.

Hujan deras yang dipicu oleh badai juga meningkatkan peringkat air sungai dan mengirimkan lumpur tanggul-tanggul ke delta Sundarban di negara bagian timur India tetangganya, Bengali Barat. Peristiwa alam itu merusak rumah ratusan ribu orang, di samping daerah perlindungan harimau terbesar di dunia.


Sumber: Kompas
(Selasa, 26 Mei 2009 | 15:00 WIB)

Hutan Unmul Kian Hancur

Laporan wartawan KOMPAS Ambrosius Harto
SAMARINDA, KOMPAS.com — Pembalakan dan perambahan telah merusak sekitar 14.000 hektar dari 20.271 hektar atau hampir 70 persen luas Hutan Penelitian dan Pendidikan Universitas Mulawarman di Kalimantan Timur.

"Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak diberi kewenangan jelas oleh Departemen Kehutanan meskipun kami ditunjuk sebagai pengelola," kata Kepala Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT) Universitas Mulawarman (Unmul) Chandradewana Boer di Kota Samarinda, Selasa (26/5).

Hutan Penelitian dan Pendidikan (HPP) Unmul terletak di dalam Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto seluas 61.850 hektar di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara. HPP Unmul ialah kawasan hutan dengan tujuan khusus bersama dua kawasan serupa lainnya yang dikelola masing-masing oleh Balai Pendidikan dan Latihan Kehutanan Samarinda dan Wanariset Samboja.

HPP Unmul dibelah oleh jalan trans-Kaltim. Di sekitar jalan penghubung Samarinda dan Balikpapan itu berdiri amat banyak rumah, warung, toko, bengkel, sarana ibadah, dan fasilitas umum, seperti kantor desa, menara listrik, dan pemancar telekomunikasi. Sebagian besar kawasan yang rusak telah dikuasai warga untuk berkebun dan berladang.


"Kami berkeinginan menjaga sekitar 6.000 hektar hutan yang masih baik tetapi berikan kewenangan," kata Boer. Kampus dengan dibantu dana Pemerintah Provinsi Kaltim telah memperkuat tata batas HPP Unmul sepanjang 97 kilometer. Jarak antarpatok tata batas yang sebelumnya 100 meter menjadi 50 meter.


"Anehnya, kami dikatakan tidak berwenang melakukan itu karena cuma dibolehkan memakai hutan untuk penelitian dan urusan pendidikan. Bagaimana kami bisa menjaga hutan yang masih tersisa bila tidak diberi kewenangan," kata Boer.


Dosen Fakultas Kehutanan Unmul Sutedjo mengatakan, Tahura Bukit Soeharto termasuk HPP Unmul patut dilindungi meskipun sudah sebagian besar rusak.


Vegetasi tahura didominasi suku meranti-merantian atau dipterocarpaceae yang banyak dipakai untuk perkayuan. Hutan tropis Kalimantan ialah pusat keberagaman dipterocarpaceae yang berkarateristik umum tinggi, besar, dan rimbun.


Selain itu, menurut Sutedjo, tahura merupakan habitat alami satwa-satwa terancam punah antara lain orangutan, owa, beruang madu, trenggiling, bajing tanah, macan dahan, kijang dan kancil, burung enggang, gelatik, dan elang. "Satwa-satwa itu sudah amat sulit ditemukan sehingga memberi gambaran bahwa tahura kian hancur," katanya.


Sumber: Kompas
(Selasa, 26 Mei 2009 | 11:56 WIB)

Cuaca Riau Ekstrim_Hot Spot 159 Titik

PEKANBARU (RP) - Cuaca di Provinsi Riau beberapa hari terakhir berlangsung ekstrim. Normalnya, suhu berada di level 34 derajat Celcius. Namun Senin (25/5), mencapai 36 derajat Celcius atau naik dua derajat.

Berdasarkan pantauan Satelit National Oceanic Atmosferic Administration (NOAA) 18 yang dirilis oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, kondisi ini menunjukkan terjadi peningkatan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau. Pantauan BMKG Senin (25/5) pukul 13.48 WIB, ditemukan 346 hot spot di Sumatera dan terbanyak ditemukan di Provinsi Riau yakni 159 hot spot.

Sementara di Sumatera Utara ditemukan 67 titik, Sumatera Barat 45 titik, Lampung 1 titik dan Bangka Belitung 1 titik. Khusus di Riau, hot spot tersebut ditemukan di seluruh wilayah kabupaten dan kota. Jumlah ini meningkat tajam dibandingkan dengan hari sebelumnya yang hanya 63 hot spot.

‘’Jumlah hot spot di Riau mengalami peningkatan yang sangat tajam bahan mencapai tiga kali lipat dari hari sebelumnya. Dari hasil pantuan Satelit NOAA 18 sebanyak 159 hot spot terdapat di Provinsi Riau,’’ kata staf analisa BMKG Pekanbaru, Warih Budi Lestari kepada Riau Pos melalui sambungan telepon, Senin (25/5). Hot spot di Provinsi Riau tersebut paling banyak ditemukan di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) sebanyak 55 titik. Sementara Kabupaten Pelalawan ditemukan 24 titik, Rokan Hulu 17 titik, Kuantan Singingi 13 titik, Indragiri Hulu 13 titik, Bengkalis 11 titik, Kampar 10 titik, Siak 7 titik, Indiragiri Hilir 6 titik, Dumai 2 titik dan Pekanbaru ditemukan satu hot spot.

Disebutkan Warih, prediksi hujan untuk Riau dalam dua hari ini ke depan peluangnya sangat kecil. Hujan dengan intensitas ringan dan bersifat lokal hanya berpeluang terjadi di wilayah pesisir timur Riau dan itupun tidak merata. Begitu juga dengan kondisi angin, masih normal dengan kecepatan 5 sampai 25 kilometer per jam.


‘’Angin masih normal dan bertiup dari Tenggara sampai Barat Daya dengan kecepatan 5 sampai 25 kilometer per jam. Sementara untuk gelombang di perairan Riau tingkat ketinggiannya masih kurang dari 1 meter dan ini juga masih normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan,’’ ujarnya.


TK-SD di Bangko Diliburkan

Banyaknya ditemukan hot spot di Kabupaten Rohil ternyata juga diiringi dengan munculnya kabut asap. Bahkan di Kecamatan Bangkis, Dinas Pendidikan setempat terpaksa meliburkan aktivitas belajar dan mengajar untuk Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).


‘’Ada beberapa pertimbangan kita mengapa kebijakan ini diambil. Salah satu di antaranya adalah untuk menjaga kesehatan anak-anak itu sendiri. Anak-anak, terlebih tingkat TK dan SD kondisi fisiknya masih belum begitu kuat untuk menerima faktor dari luar seperti lingkungan yang sekarang ini sedang diselimuti kabut asap,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan Rohil Drs Ferry H Parya didampingi Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Bangko, Drs H Sulbani, Senin (25/5).


Namun, lanjut Ferry, itu hanya berlaku di Kecamatan Bangko karena kabut asap dinilai cukup tebal bila dibandingkan dengan daerah lain.


‘’Kalau di Bagansinembah maupun Tanahputih dan sekitarnya, kondisi kabut asapnya tidak begitu tebal bila dibandingkan dengan Kecamatan Bangko,’’ kata Ferry.


Hasil pantauan Riau Pos di lapangan kemarin, semua TK dan SD memang meliburkan diri. Di setiap gedung SD maupun TK tersebut dibuat pengumuman bahwa sekolah diliburkan berdasarkan surat edaran dari Dinas Pendidikan lantaran ada kabut asap. Kegiatan libur akibat kabut asap ini hanya berlangsung selama dua hari saja.(cr1/sah)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Selasa, 26 Mei 2009 , 08:25:00)

Suhu Riau Tembus 35,9 Derajat Celcius

Laporan GEMA SETARA, Pekanbaru gemasetara@riaupos.com
Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu dua tahun terakhir, suhu di Riau mencapai 35,9 derajat celcius. Dalam keadaan normal, suhu di Riau pada kisaran 33 derajat celcius.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru Bandara Sultan Syarief Kasim (SSK) II Pekanbaru Blucher Doloksaribu kepada Riau Pos di Pekanbaru, Senin (25/5) mengungkapkan, dengan kondisi demikian suhu di Riau saat ini di atas normal, cuaca panas ini juga bisa menimbulkan berbagai dampak.

‘’Suhu 35,9 derajat celcius tersebut terjadi pada Ahad (24/5) siang, sedangkan pada Senin (25/5) sekitar pukul 13:00 WIB suhu sudah mencapai 35,4 derajat celcius, diperkirakan semakin sore suhu akan semakin panas. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini untuk pertama kalinya terjadi, sebelumnya memang pernah suhu di Riau mencapai angka 35 derajat akan tetapi tidak pernah berada pada posisi 35,9 derajat celcius,’’ tuturnya.

Ditambahkannya, dampak cuaca yang cukup panas selain rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) karena di Riau memiliki sejumlah kawasan gambut yang memang sangat rentan terhadap kebakaran terlebih dalam kondisi panas seperti saat ini. Selain rawan terhadap Karhutla kondisi panas seperti ini juga sangat rawan dengan munculnya berbagai macam penyakit dan berbagai dampak lainnya.


Dikatakannya, panasnya suhu di Riau dalam beberapa hari terakhir karena sinar matahari tembus langsung ke permukaan bumi tanpa ada awan yang menghalanginya, selain itu munculnya titik api dan kabut asap di sejumlah daerah juga menjadi penyebab utama panasnya cuaca di Riau khususnya di Kota Pekanbaru.(izl)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Selasa, 26 Mei 2009 , 07:51:00)

Padang Diguncang Gempa 4,7 SR

PADANG (RP) - Warga Kota Padang, terutama yang bertempat tinggal dan berkantor dekat kawasan pesisir pantai, Senin (25/5) pagi kemarin sekitar pukul 08:57 WIB berlarian ke luar rumah dan kantor. Mereka dikejutkan dengan guncangan gempa tektonik 4,7 skala richter (SR).

Gempa tersebut cukup terasa guncangannya karena episentrumnya relatif dekat dari bibir pantai Padang dan tergolong dangkal yakni pada kedalaman 20 Km. “Namun, gempa tidak mengakibatkan kerusakan bangunan dan tsunami, karena intensitasnya berada di bawah 5 SR,” kata Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Padangpanjang, Soemarso.

BMG mencatat gempa berpusat di 36 kilometer barat daya Kota Padang atau pada koordinat 1.26 Lintang Selatan - 100.24 Bujur Timur. “Pusat gempa masih di jalur pertemuan lempengan Indo-Australia dan Eurasia di sebelah Barat Mentawai. Guncangannya juga dirasakan sebagian warga Kabupaten Padangpariaman dan Kota Pariaman yang berada di dekat pantai,” tambah Soemarso.

Pelepasan energi di jalur pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang memanjang dari Lampung hingga Aceh itu, dinilai Soemarso cukup bagus dibandingkan pelepasan sekaligus dalam skala dan intensitas tinggi.


Sebelumnya, Satkorlak PB Sumbar menyebutkan Kota Padang merupakan kota yang paling rawan diguncang gempa dan tsunami.


“Untuk itu kami meminta masyarakat senantiasa waspada, karena gempa tidak bisa diprediksi kapan terjadinya,” ingat Sekretaris Satkorlak PB Sumbar Ade Edward.


Dalam sepekan terakhir, BMG mencatat gempa terjadi dua kali. Sebelumnya, Ahad (23/5) gempa juga terjadi berkekuatan 4.9 SR di sejumlah daerah di Sumbar sekitar pukul 17.54 WIB. Pusat gempa berkedalaman 10 km itu, berada di darat, 12 km barat daya Lubuksikaping, Kabupaten Pasaman. Getarannya dirasakan sebagian warga di Bukittinggi, Agam, Padangpanjang, dan Pasaman serta Payakumbuh.(rpg/ila)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Selasa, 26 Mei 2009 , 07:32:00)

Akibat Kabut Asap 64 Warga Terserang ISPA

Laporan SYAHRI RAMLAN,Bagansiapiapisyahriramlan@riaupos.com
SEDIKITNYA 64 warga Kecamatan Bangko, Kabupaten Rohil dan sekitarnya terserang penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Menyusul makin tebalnya kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut sejak sepekan terakhir.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rohil dr H Muhammad Junaidi Saleh didampingi Kepala Puskesmas Bangko dr Erwinto yang dihubungi Riau Pos, Senin (25/5) di Bagansiapi-api mengakui hal tersebut. ‘’Berdasarkan data yang dirangkum dari Puskesmas Bangko, warga yang menderita ISPA terhitung Mei ini saja mencapai 64 orang. Kalau April lalu mencapai 301 orang,’’ kata Junaidi.

Gangguan pengaruh kabut asap ini, lanjut Junaidi, akan diketahui dari peningkatan kasus penyakit ISPA. ‘’Saat ini, kasus penyakit ISPA di wilayah Kecamatan Bangko belum begitu ada peningkatan yang serius. Apalagi, kabut asap yang turun menyelimuti sejumlah daerah di Kecamatan Bangko ini, kondisinya tidak menentu. Terkadang tebal dan gelap. Namun keesokan harinya kembali berkurang. Dan hasil pantauan kita di lapangan, kondisi kabut asap di Kecamatan Bangko ini sudah berkurang,’’ lanjutnya.

Mengingat ketebalan kabut asap sangat sulit ditebak, Dinas Kesehatan Kabupaten Rohil telah mengambil berbagai kebijakan. Salah satu di antaranya melakukan antisipasi dini dengan melaksanakan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat di setiap ada kesempatan. Serta menyalurkan bantuan masker pelindung dari kabut asap. Pembagian masker tersebut setidaknya telah dilakukan di SMP Negeri I Bangko di Bagansiapi-api.


‘’Dalam kondisi seperti ini apalagi di musim kemarau yang diwarnai dengan kabut asap, saya menganjurkan kepada masyarakat bila hendak melakukan aktivitas di luar rumah, pergunakanlah masker. Dan yang paling penting lagi, jangan berlama-lama di luar rumah,’’ tuturnya.(tie)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Selasa, 26 Mei 2009 , 07:53:00)

Siapa Pun Presidennya, Hutan Harus Lestari

JAKARTA, KOMPAS.com — Siapa pun presidennya, hutan Indonesia harus lestari. Itulah salah satu hal yang dibahas dalam Seminar Nasional Pemberantasan Penebangan Liar dalam Era Pemerintahan SBY-JK di Jakarta, Selasa (26/5).

Berdasarkan foto satelit, tercatat deforestasi pada 2002-2003 seluas 2,3 juta hektar. Namun, pada 2006-2007 luas deforestasi berkurang menjadi 1,2 juta hektar. "Pencapaian ini karena percepatan penanganan illegal logging berdasarkan Instruksi Presiden No 4 Tahun 2005 mengenai pemberantasan penebangan kayu secara ilegal," kata Andi Amir Husry, Ketua Tim Koordinasi, Monitoring, dan Evaluasi (Kormonev) Pemberantasan Penebangan Kayu secara Ilegal saat ditemui sebelum seminar.

Seminar yang dihadiri oleh perwakilan Menteri Kehutanan, Kapolri, ICW, Jaksa Agung, dan Hakim Agung ini diselenggarakan untuk mengevaluasi penerapan Inpres No 4/2005 dan memberikan rekomendasi terhadap pemerintahan baru dalam menyikapi penebangan kayu secara ilegal. Menurut Andi, hutan Indonesia diperuntukkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. "Artinya, bagaimana memanfaatkan hutan untuk kepentingan masyarakat sekitar hutan dan tetap menjaga kelestarian," ungkap Andi.

Dengan demikian, lanjutnya, diperlukan pengawasan yang serius dalam memanfaatkan dan menjaga hutan. Setidaknya ada tiga strategi yang perlu diterapkan untuk ke depan. Pertama, melakukan pemantapan administrasi pengelolaan hutan tanaman rakyat. Caranya, masyarakat sekitar hutan diberi penyuluhan tentang memanfaatkan hasil hutan dengan tetap melestarikannya. "Penyuluhan ini sampai sekarang belum dilakukan," ungkap Andi.


Kedua, melakukan penataan tata batas hutan. "Ada beberapa kabupaten baru terbentuk, tapi ibu kotanya berada di kawasan hutan, misalnya Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat," tutur Andi. Ketiga, melakukan pengawasan secara ketat terhadap pemberian izin hak pengelolaan hutan.


Harapannya, kemajuan yang dicapai dalam pengurangan deforestasi pada lima tahun terakhir bisa ditingkatkan lagi. "Siapa pun presidennya, harus memperhatikan pelestarian dan pemanfaatan hutan Indonesia," kata Andi.


Sumber: Kompas
(Selasa, 26 Mei 2009 | 10:38 WIB)

Kawanan Gajah Masuki Pemukiman Warga Duri

DURI, TRIBUN - Kawanan gajah yang berjumlah sekitar 35 ekor kembali menebar teror di kawasan perumahan Melati Indah, Kilometer 4, Desa Balai Makam, Mandau, sejak Minggu (24/50 malam hingga Senin (25/5) pagi.

Akibatnya, warga yang tinggal di sekitar 500 meter dari pinggiran jalan lintas tersebut dilanda ketakutan. Kecemasan menyebabkan mereka tidak bisa menikmati istirahat malam. Soalnya, gajah tersebut mulai memasuki kawasan perumahan, bahkan melintas di jalan gang perumahan tersebut. Warga pun tidak bisa berbuat banyak selain pasrah dan berharap gajah-gajah tidak merubuhkan rumah mereka.

"Kami tidak bisa tidur tadi malam. Dari rumah hanya mengintip gajah-gajah tersebut lewat. Kami sangat cemas dan takut sekali," tutur Arni, ibu rumah tangga yang sudah tiga tahun bermukim di kawasan tersebut.

Kecemasan warga menjadi korban amukan mamalia raksasa tersebut pun memicu trauma. Akibatnya, sebagian warga memilih meninggalkan rumah mereka. Untuk sementara mereka mengungsi di rumah kerabat. Siang hari, mereka pulang hanya untuk memantau keadaan rumah masing-masing.

Rukiyati (50) misalnya, terpaksa mengungsi ke rumah menantunya. Soalnya, ia hanya tinggal berdua di rumah permanen yang sudah ditinggali sejak lima tahun lalu. Rumahnya yang terletak di bagian tepi pemukiman tersebut nyaris dirobohkan gajah. Tanaman di samping rumahnya diinjak-injak hingga rata dengan tanah.


"Lebih baik saya tetap mengungsi saja. Sebelum gajah-gajah itu pergi, kami tak bisa tenang. Tadi malam saja, gajah-gajah itu tepat di samping rumah saya. Kami takut sekali," kata Rukiyati dengan wajah pucat.


Jejak kunjungan gajah ke pemukiman tersebut, Senin siang masih terlihat jelas. Gajah tidak saja datang menebar ketakutan. Namun, tanaman palawija milik masyarakat juga disantap. Termasuk bibit kelapa sawit warga luluk lantak. Sisa kotoran gajah terlihat di tepian jalan.


Ketua RT 12 RW 9 Desa Balaimakam, Ahmad Fahri ditemui Tribun menerangkan, kawasan perumahan tersebut memang sering menjadi lintasan gajah-gajah liar. Namun, sejak dua bulan lalu memang gajah tak pernah datang lagi.


Menurutnya, setiap gerombolan gajah datang, tanaman masyarakat selalu saja dirusak. Untuk mencegah gajah masuk ke pemukiman, Ahmad akan mengajak warga perumahan untuk berjaga malam.


Kepala Seksi Wilayah III Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Hutomo menerangkan, pihaknya sudah menurunkan tim ke lokasi kedatangan gerombolan gajah. Tujuannya untuk memantau titik-titik pergerakan dan keberadaan gajah agar tidak semakin mendekat ke kawasan penduduk.


"Kita sudah meluncur ke lokasi. Sementara ini masih ingin menentukan titik-titk kedatangan gajah. Akan kita kembangkan untuk menentukan langkah lanjutan," terang Hutomo.


Hutomo menjelaskan, semakin hilangnya habitat asli gajah yang sudah beralih fungsi menjadi perkebunan dan perumahan, membuat ruang geraknya semakin terdesak.


"Hampir rata-rata daerah yang dikunjungi gajah merupakan jalur perlintasan. Habitar gajah semakin hilang dan ruang geraknya semakin terdesak," kata Hutomo. (ran)


Sumber: Tribun Pekanbaru
(Senin, 25 Mei 2009 | 22:58 WIB)

Perairan Rohil Gelap Diselimuti Kabut Asap Jarak Pandang Cuma Setengah Mil

JARAK PANDANG: Kabut asap yang menyelimuti perairan Rohil terutama di pagi hari cukup tebal, akibatnya jarak pandang menjadi terbatas. Kondisi perairan Rohil kembali normal menjelang tengah hari. (Syahri ramlan/riau pos)

Laporan SYAHRI RAMLAN, Bagansiapapi
KABUT asap yang menyelimuti sejumlah daerah di Kabupaten Rohil telah menimbulkan dampak yang cukup serius. Bahkan, mengakibatkan jarak pandang menjadi terbatas, hanya sekitar setengah mil di perairan Rohil. Kondisi ini dikhawatirkan mengancam keselamatan dan kenyamanan di perairan.

‘’Kalau pagi hari, jarak pandang di laut sangat terbatas sekali. Apa pun di depan kita dengan jarak-jarak tertentu, tidak dapat dilihat dengan jelas. Lantaran jarak pandang yang terganggu inilah, kapal itu kita operasikan secara perlahan-lahan saja. Yang penting selamat,’’ kata Syafril (44), salah seorang nelayan tradisional Bagansiapi-api.

Danlanal Dumai Kolonel Laut (P) Arief Sumartono melalui Danposal TNI AL Bagansiapi-api Lettu Laut (T) Mufit yang dihubungi Riau Pos, Ahad (24/5) di Bagansiapi-api tidak menafikan hal tersebut. ‘’Saya bersama anggota tadi telah melakukan patrol rutin dan melaksanakan pengawasan dan pemantauan langsung di lapangan. Memang perairan kita sedang diselimuti kabut asap. Kondisinya sangat tebal sekali. Jarak pandang hanya mencapai sekitar setengah mil,’’ kata Mufit.


Untuk itu, kepada masyarakat yang melakukan kegiatan penyeberangan antar pulau, serta para nelayan diminta berhati-hati ketika melakukan aktvitasnya. ‘’Saya yang menganjurkan saja, kalau bisa aktivitas itu dilakukan hanyan setengah hari saja. Dimana, kabut asap itu cukup tebal hanya terjadi di pagi hari. Sedangkan menjelang tengah hari, kondisinya sudah mulai kembali berangsur normal,’’ lanjutnya.


Masyarakat yang melakukan aktivitas penyeberangan antar pulau seperti dari Bagansiapi-api-Kubu, Bagansiapi-api-Pulauhalang, Bagansiapi-api-Panipahan, dan Bagansiapi-api-Sungaidaun, sebagian besar telah mengubah waktu perjalanannya. Jika selama ini dilakukan pagi hari, diundur hingga menjelang siang hari. ‘’Aku piker, pagi ada kapal yang mau berangkat. Sampai di Pelabuhan Bagansiapi-api, kapal itu segera bergerak mulai pukul 10.00 WIB. Mungkin ini disebabkan oleh kabut asap,’’ kata Udin (39) warga Panipahan.


Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah tempat pembuatan kapal-kapal kayu yang berada di sepanjang pantai Bagansiapi-api.(tie)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Senin, 25 Mei 2009 , 08:16:00)

120 Juta Dollar untuk Selamatkan Terumbu Karang

Kekayaan spesies terumbu karang, ikan, dan biota laut lainnya tampak berlimpah di Perairan Alor, Nusa Tenggara Timur, pada Mei 2007. Segitiga Terumbu Karang yang disebut juga sebagai "Amazon of the Seas" mencakup wilayah perairan tengah dan timur Indonesia, Timor Leste, Filipina, Sabah-Malaysia, Papua Niugini, dan Kepulauan Salomon diperkirakan dihuni sekitar 3.000 spesies ikan.

JAKARTA, KOMPAS.com
- Dana hibah 120 juta dollar untuk pemeliharaan terumbu karang di Indonesia sebagai hasil pertemuan Coral Triangle Initative (CTI) di Manado belum bisa disalurkan, kecuali untuk propinsi yang selama ini telah melakukan pemeliharaan. "Untuk daerah baru belum ada yang mendaftar. Yang akan diberi adalah yang sudah berjalan (pemeliharaan terumbu karang) seperti daerah seperti NTT," kata Freddy Numberi, Menteri Kelautan dan Perikanan yang ditemui setelah Rapat Pleno Hasil World Ocean Conference di ruang rapatnya, Jakarta, Senin (25/5).

Proses pengucuran dana tersebut, lanjutnya, menunggu berdirinya Sekretariat CTI. "Yang kedua menunggu kepastian tempatnya mau di mana (sekretariat tersebut)," katanya. Menurut Freddy, dari 6 negara anggota CTI, Indonesia dipilih sebagai tempat Sekretariat CTI. Ada dua pilihan yang sampai saat ini masih dibicarakan, Bali atau Manado.


Ketika ditanya wartawan kapan kepastian sekretariat itu berdiri, Freddy menjawab masih menunggu. Pembicaraan kembali dilakukan pada bulan Juni. CTI sendiri beranggotakan Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua New Guinea, Timor Leste dan Kepulauan Solomon. Negara-negara ini, dalam pertemuan yang diselenggarakan di tengah WOC 11-15 Mei 2009, menegaskan komitmennya untuk menyelamatkan terumbu karang seluas 75.000 kilometer persegi dengan penyediaan dana internasional sebesar 250 juta dollar untuk keenam negara.


Sumber: Kompas
(senin, 25 Mei 2009 | 14:25 WIB)

Dampak Pembabatan Hutan, Greenpeace Tuding SM Berhutang Rp 48,5 Triliun Setahun

Perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Sinar Mas Group dituding berhutan untuk perubahan iklim sebesar Rp 48,5 triliun setahun. Hal itu dampak dari pembabatan hutan di Sumatera.

Riauterkini-JAKARTA-Greenpeace hari ini meluncurkan laporan penelitian yang mengestimasi bahwa kegiatan perusakan lahan gambut oleh Sinar Mas Grup di Sumatera saja, melepaskan hingga 113 juta ton karbon dioksida, atau sama dengan total emisi CO2 Belgia pada 2005.

Tiap tahun, Perusahaan itu berhutang 3,4 miliar Euro atau 48,5 triliun Rupiah, jika mengacu pada rata-rata harga 30 Euro per ton karbon (berdasarkan perhitungan Kyoto Phase II oleh lembaga riset pasar karbon terkemuka).

Berdasarkan perhitungan Greenpeace, jika tidak ada tindakan segera, Konsesi Minyak Kelapa Sawit dan Kertas Sinar Mas Grup pada lahan gambut di Riau akan melepaskan emisi karbon dioksida sampai 2,26 miliar ton, setara dengan hutang perubahan iklim global hingga 97,4 triliun Rupiah.

Di Provinsi Riau, Sinar Mas menguasai lebih dari 780.000 hektar perkebunan minyak kelapa sawit dan kertas. The World Wide Fund for Nature (WWF) memperkirakan sejak 2001, 450.000 hektar hutan atau setara dengan luas pulau Lombok, telah dirusak oleh perusahaan Asia Pulp and Paper (APP) milik Sinar Mas Grup.

"Berdasarkan analisa peta satelit, 52% perkebunan milik Sinar Mas Grup berada di lahan gambut. Berada di bawah hutan tropis, lahan gambut ini mengandung sekitar 35 miliar ton karbon. Penebangan hutan dan pembakaran hutan gambut ini melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang sangat banyak, merupakan bom waktu bagi persoalan perubahan iklim," ujar Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Selain di Riau, kegiatan penebangan dan pembakaran hutan serta ekspansi perkebunan minyak kelapa sawit Sinar Mas Grup juga menjadi ancaman serius bagi hutan dan masyarakat adat di Provinsi Lereh, Papua. Kegiatan Grup ini juga mengancam ekosistem di Taman Nasional Danau Sentarum Kalimantan Barat, yang masuk daftar Convention on Wetlands of International Importance (RAMSAR).

"Yang lebih mengkhawatirkan adalah rencana ekspansi Sinar Mas," imbuh Bustar "Kepada publik perusahaan ini telah menyatakan akan melakukan ekspansi hingga 1,3 juta hektar di Papua dan Kalimantan untuk perkebunan minyak kelapa sawit baru. Tetapi yang publik tidak ketahui adalah Sinar Mas telah berencana membangun 2,8 miliar hektar perkebunan sawit di Papua, yang menurut temuan Greenpeace lebih dari dua kali lipat kepemilikan tanah Sinar Mas saat ini."

"Perubahan iklim telah menjadi ancaman terbesar masa depan bumi. Jika kita tidak menghentikan penebangan hutan yang tidak bertanggung jawab ini, maka kemajuan yang dicapai dalam perang mengatasi perubahan iklim menjadi kurang berarti. China, sebagai salah satu negara yang paling terkena dampak perubahan iklim, juga akan ikut menderita. Greenpeace menuntut Sinar Mas Grup untuk segera menghentikan kejahatan iklim mereka yakni merusak lahan gambut dan hutan untuk perkebunan minyak kelapa sawit mereka," Liu Shangwen, Jurukampanye Hutan Greenpeace China, menyimpulkan.

Sebagai catatan, analisa berdasarkan beberapa set data. Batas Konsesi Minyak Kelapa Sawit berdasarkan FWI (2006; peatland distribution maps based on Wahyunto et al (2006); Data Konsesi Hutan Pulp APP and APRIL yang didapat Greenpeace. Annual emissions for palm oil development on peatland (170t CO2e/ha) and for pulpwood development on peatland (280t CO2e/ha) are based on figures provided by Rieley et al (2008).Belgiums total national CO2 emissions in 2005 is 184 million tons. Source: WRI 2008.***(rls)


Sumber: Riau Terkini (Senin, 25 Mei 2009 17:15)

Dua Hektare Lahan Terbakar

Laporan Evi Suryati, Bengkalis evisuryati@riaupos.com
SELAIN di Dusun Gurun Panjang Desa Tanjung Leban, kebakaran juga terjadi di perbatasan Desa Tanjung Leban dan Sepahat Kecamatan Bukit Batu. Setidaknya dua hektare lahan masyarakat terbakar di perbatasan Sepahat-Tanjung Leban, namun kebakaran sudah bisa diatasi.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH), Kabupaten Bengkalis, H Tengku Said Ilyas, dihubungi Riau Pos, Ahad (24/5) pagi mengatakan, satu titik api yang berada di perbatasan Sepahat dan Tanjung Leban baru diketahui Sabtu lalu. Saat itu kata Ilyas, pihaknya menerima laporan dari tim yang turun ke lapangan.

‘’Api sudah membakar sekitar dua hektare lahan masyarakat. Alhamdulillah berkat kesigapan anggota kita dibantu Satpol PP Bukit Batu api berhasil dipadamkan,’’ kata Ilyas.

Terkait kebakaran yang terjadi di Dusun Gurun Panjang Desa Tanjung Leban, kata Tengku Ilyas, sampai pagi Ahad kemarin pihaknya belum memperoleh laporan dari anggotanya yang turun ke lokasi, apakah api tersebut padam atau belum. ‘’Kemarin, saya memang sempat terima laporan, kalau di Gurun Panjang juga sedang turun hujan. Tapi saya belum tahu apakah hujan tersebut berhasil memadamkan kebakaran di Gurun Panjang,’’ ungkap Tengku Ilyas.

Tengku Ilyas berharap, hujan deras yang mengguyur Kota Bengkalis sore Sabtu lalu, juga terjadi di daerah kebakaran. Jika hal tersebut terjadi, besar kemungkinan kebakaran yang terjadi di Gurun Panjang dan perbatasan Sepahat padam total.

‘’Kalau di lokasi kebakaran hujannya lebat seperti di Bengkalis, saya yakin api akan padam. Tapi saya masih menunggu laporan dari anggota di lapangan, mudah-mudahan kabar yang disampaikan menggembirakan,’’ harap Ilyas.

Sementara itu, Ir Zainal Zahari MT yang turun ke lapangan, masih beluh bisa dikonfirmasi terkait kondisi di lapangan saat ini. Begitupun kabid Pemantauan Drs Suiswantoro, berkali-kali handphone-nya dihubungi, namun tidak ada jawapan.

Seperti diberitakan sebelum ini, kebakaran hebat terjadi di hutan Dusun Gurun Panjang desa Tanjung Leban Kecamatan Bukit Batu. Lokasi kebakaran berbatasan dengan Dumai tersebut, diduga sebagai kawasan kelompok tani masyarakat Dumai yang membuka lahan pertanian di hutan Gurun Panjang. Kebakatan itu sendiri sudah menghanguskan lahan sekitar 200 hektare.(rnl)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Senin, 25 Mei 2009 , 08:13:00)

2009-05-26

Walhi Desak Polda Cari Cukong Kayu

PEKANBARU (RP) - Menanggapi perkembangan temuan ribuan tual kayu ilegal di Kanal Tiga, Dusun Tegar, Mandau, Bengkalis, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau, mendesak agar jajaran kepolisian daerah (Polda) Riau mencari dan menangkap cukong kayunya. Apalagi, hal ini menjadi kontroversi di tengah masyarakat, setelah dua instansi saling klaim untuk lebih berhak mengusut kasus tersebut.

‘’Dari saling klaim ini memunculkan pertanyaan atas komitmen penegak hukum untuk memberantas illegal logging. Dengan begini kita bertanya, kenapa dua instansi ini harus saling ngotot, terutama Polhut Bengkalis,’’ ujar Direktur Walhi Riau Hariansyah Usman, dalam rilisnya kepada Riau Pos kemarin.

Harusnya koordinasi dua institusi ini lebih ditingkatkan untuk mengejar ‘’pelaku utama’’ kejahatan yang harus bertanggung jawab terhadap kayu temuan tersebut. Karena di dalam kasus illegal logging bukan hanya kerugian lingkungan saja yang muncul tapi Walhi sangat meyakini dalam kasus ini juga pasti ada unsur korupsi dan kejahatan pencucian uangnya.

Dari catatan Walhi Riau, penemuan kayu di lokasi tersebut sudah berulang kali terjadi. Di awal tahun 2006, Gubernur Riau bersama Kapolda Riau waktu itu menemukan sebanyak 4.000 tual kayu di tiga lokasi di Dusun Tegar. Sementara pada September 2007, polisi hutan Bengkalis menemukan 2.500 tual kayu juga di tempat yang sama. Kayu tersebut lalu diangkut dan dilelang. Penemuan tahun ini juga dilakukan polhut Bengkalis.


Tapi dari kejadian itu semua sama sekali tidak ada aktor utama yang berhasil diungkap, kalaupun ada pelaku yang ditangkap itu sebatas operator lapangan. Walhi menilai tidak mungkin orang kampung punya modal demikian besar untuk membiayai operasional pembalakan liar ini.


‘’Pastilah ada cukong besar yang memberikan modal. Ini merupakan preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia kalau pengusutan tidak pernah menyentuh aktor utamnya,’’ kata Hariansyah.


Menurutnya, temuan kayu tahun 2007 lalu, ribuan tual kayu bebas saja keluar lalu dilelang tanpa diketahui siapa pemiliknya. Temuan terakhir yang diklaim polhut juga ribuan tual kayu juta tanpa pemilik.(gem)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Senin, 25 Mei 2009 , 07:46:00)

RIAU TETAP TERBANYAK... 346 Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera!

Surya
PEKANBARU (RiauInfo) - Kebakaran hutan dan lahan semakin menjalar di sejumlah provinsi wilayah Pulau Sumatera, Senin (25/05/2009) ini. Tercatat sebanyak 346 titik api tersebar di 9 provinsi wilayah Pulau Andalas ini. Provinsi Riau masih menjadi provinsi terbanyak yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut hari ini.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru melaporkan, hasil satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 18 telah merekam sebanyak 159 titik di Riau.

Sementara Provinsi Sumatera Utara mengalami kebakran hutan dan lahan sebanyak 67 titik. Di Provinsi Sumatera Barat jumlah kebakran hutan dan lahan mencapai 45 titik api. Provinsi Bengkulu juga menjadi korban 23 titik karhutla. Begitu juga dengan Provinsi Jambi yang menjadi korban 22 titik kebakran hutan dan lahan.

Sedangkan Provinsi Aceh dan Sumatera Selatan masing-masing mengalami 14 titik api. Tidak ketinggalan Provinsi Lampung dan Bangka Belitung masing-masing dengan 1 titik api. Sehingga jumlah kebakran hutan dan lahan menjadi 346 titik di wilayah Pulau Sumatera hari ini.


Kepala BMKG Pekanbaru Blucher Dologsaribu melalui staf analisa Warih mengatakan, cuaca cerah berawan umumnya terjadi di wilayah Pulau Sumatera. Keadaan itu menyusul belum adanya pola angin yang membentuk konvergensi awan di Sumatera. Sehingga peluang hujan sangat tipis sekali di Pulau Andalas ini.(Surya)


Sumber: Riau Info
(25 May 2009 17:16 wib)

RIAU TERBANYAK... Sumatera Panen 154 Titik Api di 7 Provinsi

Surya
PEKANBARU (RiauInfo) - Kebakran hutan dan lahan (karhutla) kian menjamur di wilayah Pulau Sumatera. Tercatat 154 titik api tersebar di 7 provinsi wilayah Pulau Andalas, Minggu (24/05/2009) ini. Riau masih menjadi provinsi terbanyak yang mengalami kebakran hutan dan lahan tersebut.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru melaporkan, berdasar hasil satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 18, jumlah kebakaran hutan dan laghan Riau mencapai 63 titik.

Sedangkan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) menjadi korban 10 titik api. Bahkan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) juga mempunyai angka fantastik dengan 56 titik api. Sementara 9 titik api lagi menyala di daerah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Sedikitnya 5 titik api juga berada di daerah Provinsi Jambi.

Beralih ke Sumatera Selatan (Sumsel) juga menyumbangkan 10 titik. Tidak ketinggalan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dengan 1 titik api. Sehingga jumlah kebakran hutan dan lahan mencapai 154 titik di wilayah Pulau Sumatera hari ini. Jumalh tersebut meningkat tajam dibanding 63 titik api Sabtu kemarin di Sumatera.


Kepala BMKG Pekanbaru Blucher Dologsaribu melalui staf analisa Sanya mengatakan, musim kering terjadi akibat pengaruh tekanan rendah yang menyedot udara di wilayah Pulau Sumatera. Akibatnya pembentukan awan yang berpotensi hujan sangat sulit terjadi. Sehingga perkembangan kebakran hutan dan lahan perlu diwaspadai dalam musim kering saat ini.(Surya)


Sumber: Riau Info (24 May 2009 19:29 wib)

MENINGKAT TAJAM... 63 Karhutla Menjalar di 9 Daerah Riau

Surya
PEKANBARU (RiauInfo) - Jumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Provinsi Riau semakin meningkat Minggu (24/05/2009) ini. Sedikitnya 9 daerah Riau tercatat mengalami karhutla. Sementara total titik api akibat karhutla mencapai 63 titik di wilayah Provinsi Riau hari ini.

Rekaman satelit [i]National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 18, seperti yang dilaporkan Badan Meteorlogi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru melaporkan, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) terdata sebagai daerah yang terbanyak mengalami kebakran hutan dan lahan di Riau.

Sementara, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dan Kabupaten Pelalawan masing-masing mempunyai 6 titik. Berikutnya daerah Kabupaten Inderagiri Hilir (Inhil) juga mengalami 5 titik kebakran hutan. Sedangkan daerah Kabupaten Bengkalis dan Siak masing-masing mempunyai 4 titim api. Beralih ke daerah Kabupaten Kampar, sedikitnya ada 3 titik api.

Tidak ketinggalan Kabupaten Inderagiri Hulu (Inhu) dan Kuantan Singingi (Kuansing) masing-masing 1 titik api. Sehingga jumlah kebakaran hutan dan lahan mencapai 63 titik api di wilayah Provinsi Riau hari ini. Jumlah ini meningkat tajam dibanding 18 titik api Sabtu kemarin di Riau.


Kepala BMKG Pekanbaru Blucher Dologsaribu melalui staf analisa Slamet Riyadi mengatakan, curah hujan Riau menipis dan temperatur meninggi mencapai 36 Derjat Celsius hari ini. Sehingga perkembangan kebakaran hutan dan lahan perlu diwaspadai dalam musim kering saat ini.(Surya)


Sumber: Riau info
(24 May 2009 18:12 wib)

Upaya Menyelamatkan Keanekaragaman Hayati yang Tersisa Mengembalikan Nangka Mini Pasirpengaraian ke Habitatnya

Laporan Andi Noviriyanti, Pekanbaru
Keanekaragaman hayati adalah makhluk hidup yang terbarukan. Namun sekali, ia punah, maka akan punah selamanya.

Siapa yang tak kenal dengan buah nangka. Tapi kalau khusus nangka mini Pasirpengaraian, pasti tak banyak yang tahu. Nangka jenis ini memang tak banyak dikenal, tapi itu adalah salah satu keanekaragaman hayati Riau yang hampir saja punah dari tanah Riau. Untung saja ada tim dari Balai Penelitian Pengembangan Masyarakat (BPPM) PT Arara Abadi yang tengah mengembangkan program Riau Berbuah menemukannya sebelum punah.

Program Riau Berbuah, selain mengembangkan tanaman buah komersil, juga mengembangkan beberapa tanaman buah lokal. Dan kebetulan, saat memburu buah-buahan yang akan dibibitkan dan dikembangkan itulah mereka menemukan satu jenis nangka yang cukup unik di sebuah penangkaran di Cibubur. Selidik punya selidik, asal usul nangka mini itu dan kemudian diidentifikasi ciri-ciri morfologinya, ternyata itu adalah nangka mini Pasirpengaraian yang dihabitatnya sendiri sudah sulit ditemukan.


Nangka mini Pasirpengaraian ini memiliki ciri khas, yakni teksturnya halus, tidak ada dami atau konang (serat-serat pembungkus nangka atau cikal bakal buah nangka), buahnya besar, tidak bergetah, rasanya manis dan gurih, serta kalau sudah sekali berbuah, maka buahnya tidak berhenti.


Meskipun pada tahapan identifikasi morfologi secara kasat mata, tim dari BPPM tidak ragu lagi, bahwa itu adalah si nangka mini, namun tidak segampang itu untuk mengklaimnya. Maka hal itu dipastikan lagi ke Balai Penelitian dan Sertifikasi Benih (BPSB). Di BPSB, juga dilakukan serangkaian tahapan, di antaranya nangka mini itu harus ditanam dan ditunggu hingga berbuah dulu. Barulah kemudian diidentifikasi kembali kesesuaiannya. Itulah sebabnya kini, Menurut Nazaruddin, General Manager Public Affair dan Humas PT Arara Abadi, Sinar Mas Forestry, nangka mini itu masih dalam tahapan akhir sertifikasi.


Menteri Kehutanan MS Kaban, yang punya asal usul kehidupan masa kecil di Pasirpengaraian, Rokan Hulu, juga tertarik dengan ditemukannya nangka mini tersebut. Dari kebun koleksi atau pembibitan yang ada di BPPM, MS Kaban membawanya ke Pasirpengaraian. “Tahun 2008 lalu, Pak Menhut membawa 80 batang bibit nangka mini tersebut untuk ditanam kembali di Pasirpengaraian,” ujar Nazaruddin, Rabu (20/5).
***


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Minggu, 24 Mei 2009 , 10:30:00)

Gelombang 2 Meter di Pesisir Barat Sumatera

Surya
PEKANBARU (RiauInfo) - Air laut pasang mulai melemah di sepanjang pesisir Barat Pulau Sumatera. Namun ketinggiannya masih dinilai waspada bagi pelayaran. Ketinggian gelombang pasang rata-rata dari pantai Aceh hingga Lampung bagian pesisir Barat Pulau Sumatera mencapai 2 meter, Minggu (24/05/2009) ini.

Tinggi gelombang hari ini relatif mereda dibanding empat hari silam yang mencapai 3,5 meter. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menyatakan, ketinggian gelombang pasang maksimum 2 meter hari ini masih relatif berbahaya bagi pelayaran.

Kepala BMKG Pekanbaru Blucher Dologsaribu melalui staf analisa Slamet Riyadi mengatakan, gelombang mulai reda menyusul berkurangnya pengaruh tekanan rendah di Selatan laut Provinsi Bengkulu. Tekanan rendah yang sering menimbulkan angin kencang dan cuaca buruk tersebut mulai menjauh dari wilayah laut Sumatera di Samudera Hindia.

Menurut BMKG, ketinggian gelombang mencapai 2 meter itu relatif bahaya bagi pelayaran, khususnya bagi kapal kecil yang sering digunakan nelayan melaut di sepanjang pesisir Barat Sumatera.(Surya)


Sumber: Riau info
(24 May 2009 19:34 wib)

Menelisik Kondisi Taman Hutan Rakyat Sultan Syarif Hasyim

Laporan: AZNIL FAJRI, Minas

AKHIR-akhir ini Indonesia cukup pusing dalam mengelola kawasan hutan yang dilindungi yang terus dirambah oleh masyarakat. Apalagi di Riau, beberapa kawasan konservasi, hutan lindung, suaka margasatwa, taman nasional, dan taman hutan raya kini mengalami deforestasi, alih fungsi lahan yang sangat mengkhawatirkan semua pihak. Sempena menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2009, kita bertanya, mana realisasi penerapan program desa konservasi di Riau?

Sejak 2008 lalu, pemerintah RI melalui Departemen Kehutanan, Direktorat Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam telah mensosialisasikan dan menggalakkan model baru program menyelamatkan kawasan hutan konservasi, hutan lindung, kawasan suaka margasatwa, taman nasional dan lain-lain dari kehancurannya, yaitu dikenal dengan konsep Desa Konservasi.

Program desa konservasi diluncurkan oleh pemerintah bertujuan untuk melestarikan kekayaan hayati dan ekosistem di sekitar hutan agar dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi makhluk hidup, keseimbangan ekosistem, terjaganya rantai kehidupan dan rantai makanan. Di sini pemerintah melalui Departemen Kehutanan RI cq Direktorat Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan RI membina langsung masyarakat tempatan di sekitar hutan konservasi yang dilindungi negara. Konkretnya, pemerintah mengucurkan dana dan tenaga pembinaan, tenaga penyuluh lapangan agar masyarakat tak lagi merusak lingkungan tetapi menjaga kelestarian hutan yang dilindungi tersebut.

Hal ini misalnya memberikan bantuan bibit pohon kehutanan seperti pohon meranti, karet, rotan batu, dan lain-lain. Kemudian bantuan bibit pohon kehidupan seperti manggis, cempedak hutan, duku, sawo, durian, rambutan, mangga, kuini, dan lain-lain. Bantuan tanaman palawija seperti jagung, ketela pohon (ubi), dan lain-lain yang tujuan akhirnya masyarakat di luar Tahura tersebut bisa mandiri dan tak lagi merusak Tahura, tetapi menjaga dan membentengi Tahura dari praktik illegal logging, petani berpindah-pindah.


Program ini sudah dilaksanakan di Jawa, tapi di Sumatera khususnya di Provinsi Riau kurang terdengar gaungnya. Ini kemungkinan besar terjadi karena sosialisasi program Desa Konservasi ke tengah-tengah masyarakat di sekitar kawasan hutan yang dilindungi tersebut masih sangat kurang. Apa itu desa konservasi yang pernah dibuat pamerannya di teras depan Gedung Manggala Wanabakti Departemen Kehutanan RI di Jakarta 2008 lalu, banyak masyarakat yang tak mengetahui dan tak mengerti karena kurang dipublikasikan.


Desa Konservasi adalah desa yang semua sendi kehidupannya selaras dengan alam. Desa yang memberikan kesempatan kepada masyarakat di sekitar kawasan konservasi untuk terlibat aktif dalam kegiatan perlindungan lingkungan hidup dan ikut mengelola kawasan tersebut. Desa konservasi adalah desa sejahtera peduli lingkungan.


Pengelolaan SDA

Melihat berbagai kasus penyerobotan kawasan hutan di Riau seperti kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim (SSH) di Minas dan Tapung Kampar, Hutan Lindung Mahato di Rokan Hulu, Hutan Lindung Bukit Betabuh di Kuantan Singingi, Hutan Lindung Bukit Suligi di Kampar dan Rohul, Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling di Kamparkiri Kampar, maka penerapan konsep desa konservasi ini adalah salah satu solusi terbaik saat ini. Artinya masyarakat di sekitar hutan itu dilibatkan dalam menjaga keselamatan hutan dan lingkungan. Tentu saja dalam rencana kegiatan pengelolaannya, yang akan dikelola adalah sumber daya alam (SDA), meliputi pelestarian plasma nutfah, penelitian dan pendidikan, pembinaan cinta alam, rekreasi dan pariwisata, perencanaan kawasan, pembangunan sarana dan prasarana. Di sini sudah mencakup penataan batas, pembagian blok, di mana pembagian blok ini ada lagi blok perlindungan, blok pemanfaatan, blok pembinaan dan rehabilitasi.


Khusus di Tahura Sultan Syarif Hasyim hal yang sangat vital adalah mendudukkan masalah tata batas. Sebab kini ada dua versi peta Tahura yang jadi perdebatan hangat masyarakat di sekitar Tahura dan pihak Dishut Riau. Satu pihak ada yang berpegang pada peta rupa bumi, di lain pihak adapula yang menggunakan peta yang disahkan Menteri Kehutanan RI. Kalau diikuti peta rupa bumi, maka banyak kawasan kebun sawit masyarakat di Tapung Kampar yang masuk Tahura. Tapi kalau diterapkan peta Menhut RI maka kawasan Rindu Sepadan masuk Tahura, termasuk peternakan ikan arwana, dan kebun sawit milik mantan pejabat. Sekarang kasus dua versi peta ini tak selesai-selesai dan menjadi benang kusut. Oleh Dishut Riau pada 2010 akan memagar Tahura dengan dana APBD sebesar Rp52 miliar. Rencana ini banyak ditentang karena masalah dualisme tapal batas dua versi peta tadi belum duduk.


Benang kusut di lapangan ditengarai berusaha disembunyikan pihak-pihak tertentu agar tak diketahui masyarakat luas. Setelah masalah ini, ada lagi hal yang vital untuk diselamatkan, yaitu masalah rehabilitasi Tahura yang sudah gundul akibat aksi illegal logging, dan keringnya aliran sungai di sekitar Tahura. Sabtu lalu, 16 Mei 2009 saat penulis mengadakan penelitian dan investigasi ke kawasan Tahura SSH tepatnya di Desa Kota Garo Kecamatan Tapunghilir, Kampar kondisi kawasan Tahura sangat parah. Sejumlah kawasan hutan di dalam Tahura dan hutan penyangganya (buffer zone) mengalami deforestasi. Sementara sejumlah aliran anak sungai mulai mengering akibat tegakan kayu hutan alam di pinggir anak sungai ini digunduli dan tak dipertahankan. Ini bisa dilihat pada aliran anak Sungai Selembakan di Dusun IV Flamboyan Desa Kota Garo Kecamatan Tapunghilir, Kabupaten Kampar.


Padahal menurut ketentuannya seharusnya 50 meter kiri-kanan anak sungai itu hutan alamnya tak boleh digunduli dan harus dipertahankan. Tapi kenyataan di lapangan sebaliknya, hutan alamnya sudah digunduli. Kayu alamnya sudah dikuras. Oleh masyarakat tempatan disebutlah beberapa oknum masyarakat dan pengusaha, serta oknum kehutanan bermain kayu di sini dulunya.


Kemudian Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas yang luasnya 37,5 hektare kini luasnya tinggal sekitar 17,5 hektare akibat terjadinya deforestasi dan alih fungsi lahan. Lebih parah lagi kawasan Tahura SSH yang luasnya 6.172 hektare kini yang berhutan hanya tinggal setengahnya karena sekitar 3.000 hektare sudah ditanami sawit oleh warga dan pengusaha, terutama kawasan yang masuk wilayah Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar, sementara Tahura yang masuk wilayah Minas Siak kondisi hutannya cukup terjaga, kendati beberapa aliran anak sungai kini debit airnya mulai mengecil akibat punahnya hutan alam.


Menurut salah seorang tokoh masyarakat Desa Kota Garo Kecamatan Tapunghilir Kampar, Zulkifli BS alias Pak Ujang yang asli penduduk Sakai ini kepada Riau Pos baru-baru ini, pihaknya bersedia dibina melalui program desa konservasi tersebut oleh Departemen Kehutanan RI. Program ini katanya sangat baik karena mengakrabkan manusia dengan lingkungan, menyelamatkan manusia dan hutan di sekitarnya. Namun sampai sekarang kata Zulkifli BS program yang baik ini belum menyentuh masyarakat di sini. Apalagi pihak perusahaan HTI di sekitar Tahura ini sudah pernah diajaknya dalam memberdayakan masyarakat tempatan, namun sampai sekarang perusahaan tersebut kata Pak Ujang belum menanggapinya. Maka oleh sebagian aparat dan perusahaan, masyarakat di sekitar Tahura SSH ini disorot sebagai komunitas perambah hutan, tukang maling kayu.


Menurut Zulkifli BS, Departemen Kehutanan RI membiarkan nasib masyarakat di sekitar Tahura SSH menjadi tak pasti dan banyak masyarakat yang luntang-lantung di sekitar Tahura. Kondisi ini sangat rawan dan bila ada godaan dan peluang dari pemodal kuat, maka akan terjadi tawar menawar jual-beli lahan di sekitar Tahura SSH ini. Sengketa dan saling serobot lahan di Tahura ini menurut Zulkifli BS sangat tinggi bahkan sampai diproses pihak kepolisian. Semrawutnya kawasan di sekitar Tahura SSH termasuk kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Minas yang kini telah berubah jadi hamparan kebun sawit perusahaan bukan hanya karena aksi perambahan yang dilakukan oknum masyarakat dan oknum pengusaha. Tapi juga terdapatnya dua versi peta Tahura SSH yang membingungkan masyarakat.


Menurut Kasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Riau Said Nurjaya SH kepada Riau Pos memang ada dua versi peta Tahura yang berbeda. Pertama peta Rupa Bumi Indonesia 1 : 50.000 oleh Bakorsurtanal 1994. Kedua berdasarkan Peta Penetapan Taman Hutan Raya Minas No.348/Kpts-II/99 26 Mei 1999 oleh Menteri Kehutanan RI. Namun kata Said pihaknya tak ingin membahas masalah ini panjang lebar. Dari pengamatan Riau Pos, kedua peta ini berbeda titik koordinatnya. Peta mana yang mau diterapkan? Inilah sumber yang membuat rancu masyarakat dan pengusaha di sekitar Tahura SSH itu. Akibat rancunya peta ini, parit pembatas Tahura pun yang telah dibangun mengitari luas Tahura 6.172 hektare ini diragukan keabsahannya masyarakat di sekitar Tahura. Ini gara-gara ada dua versi peta tadi, maka pergeseran di lapangan mencapai sekitar 3 Km lebih.


Bestek pembangunan parit Tahura juga dipertanyakan masyarakat sekitar Tahura. Uang negara sudah miliaran masuk untuk menata Tahura ini, tapi dinilai masyarakat penggunaan dananya tak tepat dan diduga menyimpang gara-gara terdapat dua versi peta tadi. Khusus di Dusun IV Flamboyan Desa Kota Garo Kecamatan Tapunghilir Kampar saat pembuatan parit Tahura 2007 lalu menggunakan delapan alat berat ekskavator merek Komatsu warna kuning saat itu operator ekskavator tak didampingi petugas pemetaan dan ahli GPS (Global Positioning System) dari instansi terkait. Masyarakat melihat petugas operator ekskavator bekerja sendiri di lapangan membuat parit Tahura dan tak sesuai lagi dengan titik koordinat. Parit Tahura yang semestinya tak mengikuti lekuk badan jalan kendaraan, tapi dipaksakan mengikuti lekuk badan jalan kendaraan.


Sesuai bestek menurut versi masyarakat, lebar parit bagian atas seharusnya empat meter, kedalaman tiga meter, dan lebar dasar parit tiga meter. Namun setelah diukur warga lebar parit atas yang ketemu sekitar 3,70 meter, kedalaman parit dua meter, lebar dasar parit 2,80 meter. Versi dua peta Tahura menurut Said Nurjaya jangan dibahas. Yang penting penertiban penyerobotan dan pembakaran hutan Tahura SSH, apalagi telah memasuki musim kemarau 15 Mei sampai Juli 2009.


Diprediksi, tingkat kebakaran hutan dan lahan di Riau akan tinggi jika tak segera diantisipasi. Bahkan menurut Said, 2010 Dishut Riau akan mengajukan dana Rp52 miliar untuk membiayai pembangunan pagar Tahura SSH sebagai pembatas dengan lahan warga. Jika sudah dipagar, menurut Said akan diketahui siapa saja pemilik kebun sawit di dalamnya. Ke depannya akan dilancarkan razia dan operasi khusus di Tahura SSH, Hutan Lindung Mahato, Hutan Lindung Bukit Suligi yang melibatkan Dephut RI dan parat gabungan.(gem)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Minggu, 24 Mei 2009 , 10:33:00)

May 2009 KELOMPOK PEDULI ALAM DJEMARI PEKANBARU (Riau) Advanture

Privacy Policy - KELOMPOK PEDULI ALAM DJEMARI PEKANBARU (Riau) Copyright @ 2011 - Theme by djemari.org