2010-01-31

151 Spesies Tikus Perlu Dilestarikan

Bogor, (ANTARA News) - Pakar proteksi tanaman dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Ir Swastiko Priyambodo, MSi, mengemukakan, sebanyak 151 spesies tikus perlu dilestarikan, karena besarnya manfaat bagi konservasi lingkungan.

"Spesies tikus ada 160. Tikus pengganggu masyarakat hanya sembilan spesies, sedangkan 151 spesies lainnya merupakan satwa liar yang harus dilestarikan," katanya di Bogor, Minggu.

Lebih lanjut Swastiko Priyambodo yang juga dosen Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB mengatakan, tikus pengganggu yang paling dikenal banyak masyarakat terdapat empat spesies yaitu tikus sawah, tikus pohon, tikus rumah dan tikus got.

Saat ini yang perlu diwaspadai adalah penyakit "leptospirosis" atau penyakit kencing tikus yang ditularkan tikus got. Penyakit ini biasanya mewabah pada saat musim hujan terutama di wilayah potensi banjir.

Banjir mengakibatkan terjadinya genangan air, sehingga memaksa tikus keluar dari sarangnya lantaran tergenang air. Biasanya tikus memilih bermigrasi ke tempat yang tidak tergenang air, termasuk ke permukiman masyarakat.

Penyebab dari penyakit ini adalah bakteri leptospira. Bakteri leptospira dibawa dan dikeluarkan melalui air kemih binatang termasuk tikus. Gejala yang timbul apabila terkena penyakit leptospirosis adalah demam, muntah, dan diare.

Swastiko mengutarakan, cara pencegahan yang paling sederhana dan efektif agar terhindar dari penyakit kencing tikus dan supaya tikus tidak betah berada di sekitar rumah yaitu dengan menerapkan pola

hidup sehat dengan menjaga agar sanitasi tetap bersih dan menutup tempat-tempat yang berpotensi untuk masuknya tikus ke dalam rumah.

Ia menambahkan, racun tikus adalah solusi paling akhir yang dapat digunakan untuk mencegah tikus berkembangbiak di rumah.

Namun, penggunaan racun tikus harus dilakukan secara hati-hati, karena racun selain berbahaya untuk binatang juga akan membahayakan penggunanya apabila terkena kontak langsung.

Tikus pengganggu lainnya adalah tikus sawah, tikus ini berkembang biak lebih banyak dibanding tikus rumah. Jika tikus rumah dalam satu kali melahirkan bisa mencapai enam hingga delapan ekor anak tikus, dan tikus sawah dalam sekali melahirkan bisa lebih banyak lagi.

Tikus-tikus sawah hasil perburuan di daerah Cirebon, Indramayu, Jawa Barat, dan Tegal, Jawa Tengah, dimanfaatkan untuk pakan ternak bebek, katanya.


Sumber: ANTARA News (Minggu, 24 Januari 2010 14:17 WIB)
Privacy Policy - KELOMPOK PEDULI ALAM DJEMARI PEKANBARU (Riau) Copyright @ 2011 - Theme by djemari.org