2009-07-15

Asap Makin Tebal, Jarak Pandang Hanya 500 Meter

JARAK PANDANG: Kabut asap mulai mengganggu jarak padang di Perairan Rokan Hilir, terutama di pagi hari Senin (13/7/2009). (syahri ramlan/riau pos)

BAGANSIAPI-API (RP)-Munculnya lima hot spot di sejumlah daerah di Kabupaten Rohil telah memberikan dampak. Salah satu di antaranya, sejumlah daerah termasuk di Kota Bagansiapi-api, Kecamatan Bangko dan sekitarnya kembali diselimuti kabut asap. Ketebalan kabut asap tersebut dapat dilihat jelas di waktu pagi hari.

‘’Kalau pagi hari, kondisi kabut asapnya sangat tebal. Jarak pandang hanya mencapai sekitar 500 meter. Hanya saja, menjelang siang, kabut asap sudah mulai berkurang. Tapi, kondisinya masih dapat dilihat,’’ kata Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedal) Kabupaten Rohil Drs H Sukma Alfalah MSi yang ditemui Riau Pos, Senin (13/7) di Gedung Serba Guna, Bagansiapi-api.

Hotspot tersebut, tambah Sukma Alfalah, berada di Simpang Bukittimah, Kepenghuluan Mumugo, Kecamatan Tanahputih. ‘’Berdasarkan hasil pantauan kita di lapangan, lahan yang terbakar itu, luasnya mencapai sekitar 50 hektare. Alhasil, di lokasi itu sudah dua hari kemarin diselimuti kabut asap,’’ kata Sukma Alfalah seraya menambahkan pemadaman telah diintensifkan.

Tebalnya kabut asap yang menyelimuti sejumlah daerah di wilayah Kabupaten Rohil tersebut sudah terlihat pada Ahad (12/7). Bahkan, sejumlah pulau di perairan Kabupaten Rohil secara perlahan-lahan mulai memutih dan tidak kelihatan. Mengingat, kabut asap tersebut bertambah tebal, sebagian nelayan banyak yang pulang lebih awal. ‘’Mula-mula pulau itu masih dapat dilihat. Namun menjelang sore, sudah tidak kelihatan lagi. Karenanya, saya pilih pulang lebih awal. Kalau sudah gelap, kita sulit untuk pulang. Apalagi, perairan itu luas sekali,’’ kata Syawal (45), salah seorang nelayan tradisional Bagansiapi-api.

Kendati demikian, hingga jelang sore kemarin, Perairan Bagansiapi-api, masih terlihat beberapa kapak-kapal nelayan yang pulang dari melakukan aktivitasnya. Sebagian besar nelayan yang pulang tersebut adalah para pekerja apung yang menangkap ikan di perairan lepas. Kapal-kapal yang dipergunakannya tergolong besar dan memiliki fasilitas sarana dan prasarana yang tergolong lengkap.

‘’Kalau nelayan apung, memang tidak ada masalah. Kapalnya besar, lagipula alatnya lengkap. Biasanya, kalau nelayan apung itu pulang, berarti kita masuk dalam musim pasang kecil. Lantaran alatnya lengkap, maka kabut itu belum menganggu baginya,’’ kata Syawal.(sah)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Selasa, 14 Juli 2009 , 08:12:00)
Privacy Policy - KELOMPOK PEDULI ALAM DJEMARI PEKANBARU (Riau) Copyright @ 2011 - Theme by djemari.org