2009-06-22

Kekeringan, Tanah Persawahan Retak

Laporan SYAHRI RAMLAN, Bagansiapi-api syahriramlan@riaupos.com
LANTARAN hampir dua bulan hujan tidak tidak turun, menyebabkan lahan-lahan persawahan di daerah sentra produksi, khususnya di wilayah Kecamatan Rimbamelintang, Kabupaten Rohil retak-retak. Selain itu, para petani juga terlambat melakukan penyemaian bibit, karena kondisi alam yang tidak hujan selama dua bulan tersebut.

‘’Kalau lahan persawahan yang retak-retak seperti adalah hal yang biasa. Terlebih pada musim kemarau seperti saat ini. Biasanya, lahan yang retak-retak itu kembali seperti sediakala kalau sudah diguyur hujan. Tanah itu retak lantaran kekeringan tidak ada air,’’ kata Kemis (44), salah seorang petani Rimbamelintang, Kecamatan Rimbamelintang.

Aktivitas pertanian di sejumlah daerah di wilayah Kecamatan Rimbamelintang, sebagian besar sedang melakukan penyemaian bibit. Penyemaian bibit padi tersebut dilakukan dengan cara lebih selektif, sehingga terus mendapatkan persediaan air terutama di musim kemarau. ‘’Kalau menyemai dengan pola lama, bibit itu cukup ditabur di areal sawah. Begitu tumbuh, baru dicabut dan ditanam di lokasi yang sebenarnya. Hanya saja, pola itu sudah tidak bisa lagi. Karena, tanah di sawah itu kering betul,’’ timpal Mukmin (40) warga Jumrah.

Alkibatnya, penyemaian dilakukan di atas tanah kosong yang sudah ditutupi plastik. Di atas plastik atau terpal tersebut diletakkan beberapa helai daun pisang dan kemudian diberi lumpur. ‘’Bibit itu ditaruhkan di atas lumpur tanah tadi. Kalau kering disirami. Nanti setelah beberapa pekan baru tumbuh. Kemudian bisa langsung ditanam,’’ kata Mukmin.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Rohil Alkahfi Sutikno yang ditemui Riau Pos, Ahad (21/6) di Rimbamelintang mengakui kondisi tanah di persawahan yang sudah dua bulan tidak diguyur hujan. ‘’Kalau tidak salah, hampir dua bulan belakangan ini, tidak ada hujan. Akibatnya, kegiatan penyemaian pun sedikit terlambat,’’ kata Alkahfi Sutikno.

Menjawab Riau Pos, penerima piagam penghargaan kategori pelestari fungsi lingkungan bidang pertanian terpadu ini mengaku permintaan gabah kering giling dinilai masih cukup tinggi. ‘’Memang saat ini harga gabah kering giling belum diketahui karena belum panen. Biasanya, harga gabah kering giling mencapai Rp2.000 lebih per kilogram,’’ ujarnya.(tie)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Senin, 22 Juni 2009 , 08:15:00)
Privacy Policy - KELOMPOK PEDULI ALAM DJEMARI PEKANBARU (Riau) Copyright @ 2011 - Theme by djemari.org