2009-05-13

TAPAK BUAYA

TAPAK BUAYA: Bekas tapak kaki buaya bermunculan di pinggiran pantai Sungai Rokan terutama mengarah ke Kuala Bagansiapi-api. Tapak kaki buaya ini sering dilihat warga terutama saat pasang besar datang.(Syahri Ramlan/Riau Pos)

BAGANSIAPI-API (RP)-Warga yang beraktivitas di pinggiran maupun di tengah Sungai Rokan, khususnya di Kecamatan Bangko, diminta waspada. Pasalnya, kawanan buaya yang bersembunyi di Pulau Pedamaran, mulai menampakan diri. Malahan, telah masuk di suak atau kuala Perairan Bagansiapi-api.

Himbauan tersebut disampaikan oleh Camat Bangko H Ramli Harrofie SH MH yang dihubungi Riau Pos, Selasa (12/5) di Bagansiapi-api. ‘’Kehadiran buaya di perairan Sungai Rokan itu, sebenarnya sudah diketahui jauh sebelumnya. Malahan, di alur pinggiran Sungai Rokan itu terlebih di Pulau Pedamaran itu diyakini sebagai tempat kawanan buaya bersarang dan bersembunyi. Dan waktu-waktu tertentu, buaya itu keluar dan menampakan dirinya,’’ kata Ramli Harrofie.

Untuk itu, lanjutnya, masyarakat yang melakukan aktivitas di alur Sungai Rokan tersebut diminta hati-hati. Terlebih para nelayan-nelayan tradisional yang menangkap ikan di sekitar perairan tersebut. Selain itu, masyarakat yang memiliki hobi memancing di pinggiran Pantai Sungai Rokan juga dianjurkan berhati-hati.

Sejumlah nelayan-nelayan tradisional yang melakukan aktivitas di Perairan Sungai Rokan sebagian besar tidak menafikan keberadaan buaya-buaya tersebut. ‘’Kalau pasang kecil, buaya-buaya itu tidak nampak. Tapi, kalau pasang besar, buaya itu muncul. Kalau malam hari, keberadaan buaya itu dapat kita lihat dengan jelas. Dimana, kalau malam buaya itu timbul di tengah laut. Bentuknya seperti batang kayu yang hanyut dan matanya bersinar terkena pantulan bulan,’’ kata Jufri (44), salah seorang nelayan jaring.

Saat menabur jaring di tengah Peraingan Sungai Rokan untuk menangkap ikan, sebagian para nelayan telah memiliki trik-trik tersendiri. ‘’Kalau mengawai (menangkap ikan dengan memancing, red), biasanya semua alat untuk menangkap ikan itu dipasangkan sewaktu air surut. Setelah dipasang, kemudian nelayan langsung bergerak ke tepi. Mereka tidak mau menunggu di tengah sampai laut pasang karena ada buaya tadi,’’ kata Jufri.

Sedangkan nelayan yang memasang jaring, lanjut Jufri, pemasangan alat tangkap tersebut dilakukan menjelang air mulai pasang. ‘’Kalau air surut, kami naik ke darat. Tapi, begitu air mau pasang, baru kami turun. Itu pun tidak kami lakukan sendiri. Melainkan beramai-ramai. Minimal, setiap rombongan terkadang ada empat atau lima sampan,’’ lanjut.(sah)


Sumber: Harian pagi Riau Pos Pekanbaru(Rabu, 13 Mei 2009 , 08:06:00)
Privacy Policy - KELOMPOK PEDULI ALAM DJEMARI PEKANBARU (Riau) Copyright @ 2011 - Theme by djemari.org